Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

DPR RI: BI Harus Hati-Hati Terapkan Kebijakan ‘Quantitative Easing’

Kebijakan moneter yang terdampak akibat mewabahnya pandemi virus Corona (Covid-19) memerlukan penyesuaian yang cepat.

DPR RI: BI Harus Hati-Hati Terapkan Kebijakan ‘Quantitative Easing’
DPR RI
Anggota Komisi XI DPR RI Ramson Siagian. 

TRIBUNNEWS.COM - Kebijakan moneter yang terdampak akibat mewabahnya pandemi virus Corona (Covid-19) memerlukan penyesuaian yang cepat.

Anggota Komisi XI DPR RI Ramson Siagian mencontohkan, dengan merebaknya isu agar Bank Indonesia (BI) mencetak uang pada akhir Maret dan awal April 2020 lalu, respon pasar cukup memperlembah posisi rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.000 per dollar Amerika Serikat (AS). 

Namun, dengan berhasilnya Pemerintah mendapatkan utang dan menerbitkan global bond sebesar 4,3 miliar dollar AS dan upaya BI melakukan Quantitative Easing (pelonggaran kuantitaf) dalam berbagai bentuk operasi moneter, bukan dengan mencetak uang, posisi rupiah kembali pada kisaran Rp 15.000 per dollar AS.

“Upaya memperoleh Repo line oleh BI dari The Federal Reserve sebesar 60 miliar dollar AS atau setara Rp 900 triliun saat kurs Rp 15.000, dan menjadi setara  Rp 1.002 triliun saat kurs Rp 16.700 adalah upaya yang tepat untuk persiapan operasi moneter selanjutnya dan lebih tepat daripada  melaksanakan usulan cetak uang yang risiko terlalu tinggi," kata Ramson dalam keterangan tertulisnya kepada Parlementaria, Rabu (20/5/2020).

Meski demikian, pelaksanaan Quantitative Easing sebagai bagian dari teori Modern Monetary bisa terjadi, namun dalam pelaksanannya dipengaruhi oleh banyak variabel.

Misalnya Jepang yang memiliki cadangan devisa (cadev) mencapai 1.387 miliar dollar AS, yang membuat negara tersebut lebih bebas bervariasi menjalankan QE.

Berbeda dengan Indonesia yang hanya memiliki cadev 130 miliar dollar AS, serta posisi variabel lain seperti struktur investor, surat utang negara, dan sebagainya.

"Jika Bank Indonesia melakukan kesalahan strategis dalam membuat kebijakan moneter, selain laju inflasi akan meningkat tajam, posisi rupiah akan melemah tajam dan cadangan devisa juga akan berkurang signifikan, karena potensi terjadinya capital flight, dan nilai utang serta bunga utang foreign currency baik Pemerintah maupun swasta jika dikonversi dengan rupiah akan membengkak tak terkendali," imbaunya.

Lebih lanjut, politisi Fraksi Partai Gerindra tersebut mengatakan bahwa tidak perlu dengan kaca mata kuda melihat perkembangan Quantitative Easing.

Menurutnya, jika dilihat dari salah satu basis teori moneter dengan persamaan MV=PT, maka untuk menggerakan perekonomian saat melambat atau saat menunjukkan potensi reses, maka memerlukan peningkatan likuiditas atau pelonggaran uang (M) secara besar-besaran.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Content Writer
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas