Tribun

Ibadah Haji 2022

3 Penyakit ini Jadi Penyebab Jemaah Haji Meninggal di Tanah Suci: Serangan Jantung Paling Mematikan

Sebanyak 58 jemaah haji Indonesia meninggal dunia di Tanah Suci, per Minggu (16/7/2022). paling banyak yang mengalami serangan jantung.

Penulis: Aji Bramastra
Editor: Wahyu Aji
zoom-in 3 Penyakit ini Jadi Penyebab Jemaah Haji Meninggal di Tanah Suci: Serangan Jantung Paling Mematikan
Tribunnews.com/Aji Bramastra
Tim kesehatan di Arafah tengah menangani seorang jemaah yang dilaporkan sakit, di hari pertama jemaah tiba di Arafah, Kamis (7/7/2022). Jemaah haji di seluruh dunia akan melaksanakan wukuf di Arafah mulai Jumat (8/7/2022) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aji Bramastra

TRIBUNNEWS.COM, MEKKAH - Sebanyak 58 jemaah haji Indonesia meninggal dunia di Tanah Suci, per Minggu (16/7/2022).

Jumlah ini sebenarnya menunjukkan angka kematian jemaah haji Indonesia menurun drastis di banding musim haji sebelumnya, atau pada 2019.

Tapi, apa sebenarnya penyakit yang paling banyak menyebabkan jemaah haji wafat pada tahun ini?

Berdasarkan data Siskohat Kementerian Agama, Cardiovaskuler Disease atau serangan jantung menjadi penyebab terbesar kematian jemaah haji Indonesia.

Ada 31 jemaah haji yang meninggal dunia.

Nomor kedua, respitory disease membuat 31 jemaah wafat. Lalu, ada 4 orang yang wafat karena Neoplasms.

Jumlah jemaah yang meninggal setelah kegiatan inti ibadah haji di Arafah, Muzdalifa dan Mina meningkat tajam.

Dalam tiga hari terakhir per Sabtu (16/7/2022), sembilan jemaah haji wafat.

Hal ini pun menjadi perhatian Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas.

"Kita semua lelah setelah menjalani puncak ibadah haji. Sebab, haji adalah ibadah fisik.

Untuk itu, saya harap jemaah haji tidak memforsir diri setelah puncak ibadah di Armuzna," kata Yaqut, ditemui di Jeddah, Sabtu (16/7/2022).

Baca juga: Ratusan Koper Jemaah Embarkasi Solo Ditolak Bandara Jeddah, Ketahuan Sembunyikan Air Zamzam

Yaqut juga berpesan, jemaah haji yang masih lama di Mekkah untuk memulihkan fisiknya dulu dengan cukup beristirahat.

"Tidak perlu memaksakan bergegas untuk thawaf ifadah," kata Yaqut. (*) 

Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas