Ketika Yel-yel Menggema di Asrama Haji, Diklat Petugas Dimulai
Para petugas haji 2026 yang berjumlah 1.500 dan berasal dari berbagai daerah di Indonesia ini akan digembleng dengan pendekatan semi militer.
Penulis:
Sri Juliati
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Fahmi yang akan bertugas di layanan kesehatan ini mengaku sempat mendapat informasi bahwa diklat akan dilakukan semi militer.
"Tapi masih denial, ga mungkin ah kaya semi militer, apalagi saya layanan kesehatan. Tapi Qadarulloh beneran semi militer, terasa seperti latsar Kembali," ujar Fahmi kepada Tribunnews.com.
Ia pun mengaku sempat kaget. Meski demikian, dokter yang sehari-hari bertugas di RSU Dr. Saiful Anwar Malang itu mengaku siap dengan segala dinamika yang terjadi selama menjalani masa diklat PPIH 2026.
"Memang ada rasa kaget, tapi insyaallah siap dengan segala dinamika dan alhamdulillah dipertemukan dengan teman-teman yang hebat semua," katanya.
Jangan Nebeng Haji
Sementara itu, ketika membuka diklat PPIH, Menteri Haji dan Umrah (Menhaj), Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan) memperingatkan agar para PPIH Arab Saudi 2026 mengutamakan kepentingan jemaah haji.
"Jangan kepikiran untuk nebeng haji, tetapi niatkan diri sebagai pelayan tamu Allah," kata Gus Irfan, Minggu (11/1/2026).
"InsyaAllah jika ada rezeki dan peluang kalian akan dapat ikut melaksanakan ibadah haji. Tapi ketika ada pilihan apakah harus menjalankan ritual haji dan melayani jemaah, sudah jelas tujuannya melayani jemaah," tambahnya.
Ia menegaskan, PPIH mengemban amanah besar, bukan hanya keagamaan tetapi juga kenegaraan. Penyelenggaraan haji menyentuh berbagai dimensi, mulai dari kemanusiaan, diplomasi, hingga politik.
Dengan jumlah jemaah terbesar di dunia mencapai 221.000 orang per tahun, Indonesia dituntut memiliki sistem dan petugas yang unggul.
Diklat ini pun diharapkan mampu membentuk petugas yang lebih profesional, berintegritas, serta siap secara fisik dan mental dalam melayani jemaah.
"Semoga Diklat ini menjadikan layanan haji semakin baik dan berorientasi pada kenyamanan jemaah," kata dia.
Gus Irfan juga menyebut, tahun 2026 disebut sebagai fase penting karena adanya perubahan regulasi serta karakteristik jemaah yang semakin beragam.
Oleh karena itu, petugas haji dituntut lebih adaptif, profesional, dan fokus pada solusi. "Petugas adalah pelayan tamu-tamu Allah. Orientasi kita adalah layanan," pungkasnya. (*)
Baca tanpa iklan