Jemaah Haji Wajib Tahu, Ini Tips Ampuh Cegah Kaki Lecet dan Melepuh
Salah satu tantangan paling sering dialami jemaah adalah kondisi kaki lecet dan melepuh karena cuaca ekstrem saat menjalani ibadah Haji di Tanah Suci.
Penulis:
Farrah Putri Affifah
Editor:
Febri Prasetyo
Ringkasan Berita:
- Cuaca ekstrem di Arab Saudi hingga mencapai sekitar 36 derajat Celsius membuat kaki jemaah sangat rentan mengalami iritasi.
- Jemaah haji perlu menjaga kesehatan kaki dengan menggunakan alas kaki yang tepat, kaos kaki, serta pelembap untuk mencegah lecet dan melepuh akibat cuaca panas dan aktivitas berjalan jauh di Tanah Suci.
- Pemerintah melalui layanan kesehatan siaga 24 jam dan edukasi petugas terus mengingatkan jemaah untuk menjaga hidrasi.
TRIBUNNEWS.COM - Ibadah haji adalah rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang mampu secara fisik, mental, dan finansial.
Ibadah ini dilakukan setiap tahun pada bulan Zulhijjah di Tanah Suci Makkah dan sekitarnya, dengan rangkaian ibadah yang sudah ditetapkan secara syariat, mulai dari tawaf, sa’i, wukuf di Arafah, hingga rangkaian ibadah di Mina.
Bagi jemaah Indonesia, keberangkatan haji pada musim 1447 Hijriyah/2026 Masehi dimulai secara bertahap sejak akhir April 2026 dari berbagai embarkasi di tanah air.
Hingga 24 April 2026, sebanyak 56 kelompok terbang (kloter) dengan total 22.051 jemaah haji Indonesia telah diberangkatkan ke Arab Saudi.
Dari jumlah tersebut, 17.747 jemaah yang tergabung dalam 45 kloter telah tiba di Madinah dan mulai menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci.
Namun, perjalanan spiritual ini tidak hanya menuntut kesiapan hati, tetapi juga kesiapan fisik yang kuat.
Salah satu tantangan paling sering dialami jemaah adalah kondisi kaki lecet dan melepuh, yaitu keadaan ketika kulit kaki mengalami iritasi akibat gesekan terus-menerus dengan alas kaki, tekanan saat berjalan jauh, serta diperparah oleh suhu panas ekstrem di Tanah Suci.
Dalam kondisi ini, kulit bisa terasa perih, memerah, hingga muncul luka atau gelembung berisi cairan yang mengganggu kenyamanan saat beribadah.
Cuaca di Arab Saudi menjadi salah satu faktor utama yang perlu diwaspadai.
Suhu udara di Madinah dapat mencapai sekitar 36 derajat celsius dengan kelembapan rendah, sementara di Makkah dan kawasan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) bisa meningkat hingga sekitar 50 derajat Celsius.
Ditambah aktivitas berjalan kaki yang cukup intens selama ibadah, kondisi ini membuat kaki menjadi bagian tubuh yang paling rentan mengalami kelelahan dan cedera ringan.
Baca juga: Fast Track Haji 2026 Resmi Beroperasi, Ribuan Jemaah Tiba di Madinah Lebih Cepat
Tips Ampuh Cegah Kaki Lecet dan Melepuh
Agar ibadah tetap nyaman dan tidak terganggu masalah kaki, jemaah haji dianjurkan untuk menerapkan beberapa langkah pencegahan sederhana namun sangat penting.
Dikutip dari Instagram @kemenhaj.ri dan laman kemkes.go.id, berikut tips ampuh cegah kaki lecet dan melepuh bagi jemaah haji.
1. Gunakan alas kaki yang tepat dan sesuai ukuran
Pilih sandal atau sepatu yang benar-benar pas di kaki, tidak terlalu sempit dan tidak terlalu longgar.
Alas kaki yang tidak sesuai dengan ukuran dapat menyebabkan gesekan berlebihan yang memicu lecet.
2. Gunakan kaos kaki sebagai pelindung tambahan
Kaos kaki membantu mengurangi gesekan langsung antara kulit kaki dan alas kaki.
Selain itu, kaos kaki juga membantu menyerap keringat sehingga kaki tetap lebih nyaman meski cuaca panas.
3. Rutin menggunakan pelembap kaki
Kulit kaki yang kering lebih mudah retak dan melepuh.
Oleh karena itu, penggunaan pelembap secara rutin sangat dianjurkan agar kulit tetap lembut dan terlindungi dari gesekan.
4. Bawa tas kecil untuk menyimpan alas kaki
Saat memasuki masjid, jemaah dianjurkan membawa alas kaki masuk menggunakan tas kecil agar tidak hilang atau tertukar.
Kebiasaan ini juga mencegah jemaah berjalan tanpa alas kaki di area panas.
Bagi jemaah haji yang kehilangan atau lupa menyimpan alas kaki, dapat menghubungi petugas yang berada di area masjid.
5. Hindari berjalan tanpa alas kaki
Permukaan tanah di Arab Saudi, terutama di sekitar Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, bisa sangat panas.
Berjalan tanpa alas kaki berisiko tinggi menyebabkan luka bakar ringan pada telapak kaki.
6. Istirahat ketika kaki mulai terasa sakit
Jangan memaksakan diri jika kaki mulai terasa perih atau tidak nyaman.
Istirahat sejenak dapat mencegah kondisi lecet menjadi lebih parah.
Kemenhaj Pastikan Layanan Kesehatan Jemaah Haji Optimal
Di tengah padatnya aktivitas ibadah haji dan kondisi cuaca ekstrem di Tanah Suci, layanan kesehatan menjadi salah satu pilar utama yang tidak bisa dipisahkan dari keseluruhan penyelenggaraan haji.
Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah memastikan bahwa jemaah haji Indonesia mendapatkan akses layanan kesehatan yang siaga penuh selama 24 jam tanpa henti, khususnya di Madinah sebagai salah satu titik awal kedatangan jemaah.
Layanan ini diwujudkan melalui keberadaan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah yang beroperasi penuh selama musim haji 1447 H/2026 M.
KKHI tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengobatan ringan, tetapi juga sebagai pusat pelayanan medis yang menangani berbagai kondisi kesehatan jemaah.
Mulai dari kelelahan, dehidrasi, gangguan pernapasan, luka ringan seperti kaki lecet dan melepuh, hingga penanganan darurat sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
Kesiagaan layanan ini diperkuat dengan tenaga medis yang lengkap dan terlatih, terdiri dari dokter umum, dokter spesialis, perawat, tenaga farmasi, tenaga laboratorium, radiografer, hingga tenaga sanitasi.
Seluruh tim bekerja secara bergiliran untuk memastikan bahwa setiap jemaah yang membutuhkan pertolongan dapat ditangani kapan pun, baik siang maupun malam, tanpa terhambat waktu, dikutip dari haji.go.id.
Selain layanan di dalam klinik, KKHI juga didukung oleh sistem rujukan medis yang terintegrasi dengan berbagai rumah sakit di Arab Saudi.
Jemaah yang membutuhkan penanganan lanjutan dapat segera dirujuk ke fasilitas kesehatan seperti Saudi German Hospital, King Fahd Hospital, hingga Al Madinah Hospital.
Sistem ini dirancang agar penanganan medis dapat dilakukan dengan cepat, tepat, dan sesuai tingkat kebutuhan pasien.
Salah satu perhatian utama dalam layanan kesehatan haji adalah risiko dehidrasi, yang sering terjadi akibat cuaca panas ekstrem serta aktivitas ibadah yang padat.
Banyak jemaah yang tanpa sadar mengurangi minum karena khawatir sering ke kamar kecil, padahal kondisi ini justru dapat membahayakan kesehatan.
Oleh karena itu, tenaga medis secara aktif memberikan edukasi agar jemaah tetap mengonsumsi air secara rutin dalam jumlah kecil namun sering, sehingga tubuh tetap terhidrasi dengan baik.
Layanan kesehatan 24 jam ini tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif dan edukatif.
Petugas kesehatan secara rutin memberikan imbauan kepada jemaah agar menjaga pola istirahat, mengenali tanda-tanda kelelahan, serta segera melapor jika mengalami keluhan kesehatan sekecil apa pun.
Pendekatan ini penting untuk mencegah kondisi ringan berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius.
Lebih dari sekadar fasilitas medis, keberadaan layanan kesehatan siaga 24 jam ini menjadi bentuk nyata komitmen pemerintah dalam melindungi keselamatan jemaah haji Indonesia.
Dengan sistem yang terintegrasi, tenaga medis yang siaga penuh, serta dukungan fasilitas yang memadai, diharapkan seluruh jemaah dapat menjalani rangkaian ibadah haji dengan lebih khusyuk tanpa terganggu oleh masalah kesehatan yang tidak tertangani.
(Tribunnews.com/Farra)
Artikel Lain Terkait Ibadah Haji 2026
Baca tanpa iklan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.