Pentingnya Menjaga Lisan saat Ibadah Haji agar Meraih Haji Mabrur
Pentingnya menjaga lisan selama ibadah haji, karena ucapan yang tidak terkontrol dapat mengurangi makna spiritual dan kualitas ibadah.
Penulis:
Lanny Latifah
Editor:
Suci BangunDS
Prof. Evi menyoroti mayoritas jemaah haji Indonesia yang didominasi kelompok lanjut usia atau lansia.
Menurutnya, banyak jemaah harus menunggu antrean keberangkatan haji hingga puluhan tahun. Di sejumlah daerah, masa tunggu haji bahkan mencapai sekitar 30 tahun.
Karena itu, ia menilai sangat disayangkan apabila ibadah yang telah lama dinantikan justru kehilangan esensinya hanya karena tidak mampu menjaga ucapan dan emosi.
“Kita sudah menunggu lama untuk berhaji. Akan sangat disayangkan kalau kemudian esensi hajinya tidak didapat hanya karena lisan,” ungkapnya.
Jangan Menghalalkan Segala Cara Saat Beribadah
Prof. Evi mengingatkan agar jemaah tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi saat menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Menurutnya, setiap orang memiliki tujuan yang sama untuk beribadah sehingga sikap saling menghormati dan menjaga ucapan harus tetap diutamakan.
Ia mencontohkan kondisi antrean toilet hingga padatnya area tawaf yang membutuhkan kesabaran ekstra dari para jemaah.
Menurutnya, perilaku mudah marah, mengeluh, atau berkata kasar dapat mengurangi makna spiritual dalam ibadah haji.
“Kalau tidak sabar dan tidak hati-hati, bisa saling dorong, saling marah, atau mengomel,” katanya.
Baca juga: Nasib Jemaah Haji Indonesia yang Ditangkap Usai Rekam Tanpa Izin di Masjid Nabawi, Bisakah Berhaji?
Agar ibadah berjalan lebih khusyuk, berikut beberapa cara menjaga lisan selama berhaji, di antaranya:
- Memperbanyak dzikir dan istighfar
- Menahan emosi saat menghadapi antrean
- Menghindari ucapan kasar atau keluhan berlebihan
- Mengingat tujuan utama berhaji
- Mengutamakan kesabaran dan toleransi
Selain itu, ia menegaskan menjaga lisan bukan hanya penting saat berada di Tanah Suci, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, saat ibadah haji, kemampuan menjaga ucapan menjadi lebih penting karena kondisi fisik dan mental jemaah benar-benar diuji.
Dengan menjaga lisan, bersikap sabar, dan menghormati sesama jemaah, ibadah haji diharapkan dapat berjalan lebih baik dan membawa predikat haji mabrur.
(Tribunnews.com/Latifah)