Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Dua Ciri Haji Mabrur, Musyrif Diny: Tinggalkan Keburukan dan Perbanyak Kebaikan

Haji mabrur ditandai dengan perubahan perilaku setelah berhaji, yaitu meninggalkan keburukan dan konsisten melakukan kebaikan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Lanny Latifah
Editor: Febri Prasetyo
zoom-in Dua Ciri Haji Mabrur, Musyrif Diny: Tinggalkan Keburukan dan Perbanyak Kebaikan
Tribunnews.com
SUASANA MASJIDIL HARAM - Jemaah haji memadati area tawaf, Makkah, Jumat (1/5/2026). Haji mabrur ditandai dengan perubahan perilaku setelah berhaji, yaitu meninggalkan keburukan dan konsisten melakukan kebaikan yang tercermin dalam kehidupan sosial sehari-hari. 
Ringkasan Berita:
  • Fase kepulangan jemaah haji Indonesia gelombang pertama dimulai pada 1 Juni 2026, dengan 17 kloter yang dipulangkan.
  • Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang dilaksanakan di Mekkah pada 9–13 Dzulhijjah, dengan rangkaian rukun seperti ihram, wukuf di Arafah, tawaf, sa’i, dan tahallul.
  • Haji mabrur ditandai dengan perubahan perilaku setelah berhaji, yaitu meninggalkan keburukan dan konsisten melakukan kebaikan yang tercermin dalam kehidupan sosial sehari-hari.

 

TRIBUNNEWS.COM - Fase kepulangan jemaah haji Indonesia gelombang pertama resmi dimulai pada Senin (1/6/2026).

Kementerian Haji dan Umrah menyebut sebanyak 17 kelompok terbang (kloter) dijadwalkan kembali ke tanah air melalui Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi.

Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang mampu, baik secara fisik, finansial, maupun mental.

Ibadah ini dilaksanakan di Tanah Suci Arab Saudi, yaitu di Mekkah dan sekitarnya, pada 9, 10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah dalam kalender Hijriah.

Urutan rukun ibadah haji yaitu ihram, wukuf di Arafah, tawaf, sa’i, tahallul, dan dilaksanakan secara tertib.

Selain menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, haji juga merupakan perjalanan spiritual yang mengajarkan keikhlasan, kesederhanaan, kesabaran, serta pengorbanan harta dan tenaga di jalan-Nya.

Rekomendasi Untuk Anda

Setiap muslim yang menunaikan ibadah haji tentu berharap agar hajinya diterima oleh Allah SWT dan memperoleh predikat haji mabrur.

Haji mabrur adalah ibadah haji yang diterima oleh Allah SWT serta membawa perubahan positif dalam keimanan, akhlak, dan kehidupan seseorang setelah kembali dari Tanah Suci.

Dalam sebuah unggahan di Instagram @mediacenterhaji.ri, Asrorun Ni’am Sholeh yang mengemban amanah sebagai Musyrif Diny (Pengawas/Pembimbing Keagamaan) Kementerian Agama RI, menjelaskan makna haji mabrur yang sering menjadi harapan setiap jamaah haji.

Beliau mengutip sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Al-hajjul mabruru laisa lahu jaza’un illal jannah”, yang berarti bahwa haji mabrur tidak memiliki balasan lain kecuali surga.

Menurutnya, meskipun haji mabrur bersifat kualitatif, tanda-tandanya dapat dilihat melalui perubahan perilaku seseorang setelah menunaikan ibadah haji.

Baca juga: Jemaah Haji Dilarang Bawa Air Zamzam ke Koper, Bagasi Jangan Diikat Tali Rafia dan Lakban

Perubahan Perilaku sebagai Indikator Haji Mabrur

Prof. Asrorun Ni’am menjelaskan bahwa kemabruran haji dapat dikenali dari perubahan sebelum dan sesudah berhaji.

Jika seseorang yang sebelumnya kurang rajin beribadah kemudian menjadi lebih konsisten dan berkelanjutan dalam kebaikan setelah pulang haji, maka hal tersebut menjadi salah satu tanda kemabruran.

Perubahan ini tidak bersifat sesaat, melainkan harus konstan dan berkesinambungan dalam kehidupan sehari-hari.

"Tandanya dapat dilihat oleh orang lain, seiring dengan perubahan pra dan pasca-haji. Jika biasanya malas, kemudian setelah haji menjadi lebih rajin dan hal itu bersifat konstan serta berkelanjutan, maka tanda-tanda kemabruran itu ada," ujarnya.

Dua Ciri Utama Haji Mabrur

Dalam penjelasannya, beliau menyebutkan setidaknya ada dua aspek utama yang menjadi penanda haji mabrur.

1. Komitmen Meninggalkan Keburukan

Ciri pertama adalah adanya komitmen kuat untuk meninggalkan perbuatan buruk yang sebelumnya dilakukan.

Setelah melaksanakan ibadah haji, seseorang diharapkan mampu berhenti dari kebiasaan negatif dan tidak kembali pada perilaku yang tidak baik.

Perubahan ini menjadi indikator penting bahwa ibadah haji memberikan dampak spiritual yang nyata dalam kehidupan seseorang.

"Yang pertama adalah komitmen untuk meninggalkan keburukan. Komitmen untuk meninggalkan apa yang biasa dia lakukan padahal itu buruk," sebutnya.

2. Komitmen Melakukan Kebaikan (Al-Ihsan)

Ciri kedua adalah adanya dorongan kuat untuk berbuat baik atau al-ihsan.

"Kemudian yang kedua ada al-ihsan, yakni komitmen untuk berbuat baik," ungkapnya.

Artinya, seorang haji mabrur tidak hanya berhenti dari keburukan, tetapi juga aktif melakukan kebaikan dalam kehidupan sosialnya.

Hal ini menunjukkan bahwa ibadah haji bukan hanya pengalaman spiritual personal, tetapi juga harus tercermin dalam hubungan sosial dan kontribusi kepada masyarakat.

Baca juga: Doa Agar Menjadi Haji Mabrur, Ikhtiar Meraih Haji yang Diterima Allah SWT

Lebih lanjut, Prof. Asrorun Ni’am menegaskan bahwa haji merupakan ibadah yang bersifat personal dan spiritual, namun dampaknya harus terlihat dalam kehidupan sosial.

Ukuran keberhasilan ibadah tidak hanya dilihat dari pelaksanaan ritual, tetapi juga dari perubahan perilaku dan kontribusi sosial setelahnya.

Prinsip ini juga berlaku pada ibadah lain seperti sholat, puasa, dan zakat, yang semuanya diharapkan mampu membentuk karakter dan kepedulian sosial.

"Rata-rata ibadah yang didesain untuk kita seperti sholat, puasa, zakat, bahkan haji itu selalu pelaksanaannya bersifat personal, dia harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang baku, tetapi ukuran kesuksesannya adalah jelmaan aktivitas sosial," terangnya.

Beliau juga menekankan bahwa perubahan menuju haji mabrur tidak terjadi secara instan. Transformasi perilaku membutuhkan proses yang berkelanjutan dan tercermin dalam keseharian seseorang dalam jangka panjang.

Dengan demikian, haji mabrur bukan hanya tentang ritual yang sah, tetapi tentang konsistensi dalam menjaga kebaikan setelah kembali ke kehidupan normal.

Haji mabrur pada akhirnya tercermin dari perubahan nyata dalam sikap, perilaku, dan kontribusi sosial seseorang.

Dua ciri utama yang ditekankan, yaitu meninggalkan keburukan dan komitmen pada kebaikan, menjadi indikator penting yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim setelah menunaikan ibadah haji.

(Tribunnews.com/Latifah)

Sesuai Minatmu
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas