Massa Pro dan Kontra Pembangunan Masjid Saling Berhadapan
Ratusan orang dari kelompok pro dan kontra pembangunan masjid di dekat lokasi serangan teror 11 September 2001 saling berhadap-hadapan
Penulis:
Widiyabuana Slay
Polisi akhirnya memasang tanda di kelompok masing-masing agar tidak terjadi kekerasan. Selama aksi itu berlangsung tak ada laporan mengenai korban kekerasan di lokasi tersebut. Kelompok oposisi menyatakan "tidak boleh ada masjid", sementara pendukung mengatakan," tidak boleh ada di tindakan rasis".
Pihak pengembang berencana mengubah bangunan tua di dekat lokasi itu untuk membangun gedung berlantai 13 yang di dalamnya terdapa masjid dan pusat kegiatan keagamaan.
Para pendukung masing-masing pihak saling berkonfrontasi dan berteriak satu sama lain di antara barikade.
Para oposisi meminta agar lokasi dipindahkan jauh dari lokasi di mana 3.000 orang tewas setelah teroeris merubuhkan gedung WTC dengan pesawat.
"Seharusnya mereka membangunnya di Timur Tengah," ujar Steve Ayling (4). Ia dengan tegas mengatakan jika penyumbang uang dari pembangunan gedung itu adalah orang di balik penghancuran gedung kembar tersebut.
Namun, Dr Ali Akram, seorang dokter asal Brooklyn berusia 39 tahun mengatakan ada juga umat Muslim yang jadi korban dalam serangan itu.
"Mereka mengajari anak mereka mengenai kebebasan beragama di Amerika namun mereka malah tidak mempraktikkannya," katanya, lagi.
Rencana pembangunan ini sudah mendapat tentangan dari para politisi kelompok Republik dan para konservatif.
Barack Obama juga ketiban kemarahan sebagian warga Amerika saat ia membela pembangunan masjid itu dan mengatakan Muslim memiliki hak mendirikan masjid hanya beberapa blok dari lokasi ground zero.