Kertas Fotokopi Indonesia Diselidiki Jepang
Delapan perusahaan kertas Jepang mengajukan keluhan khusus terhadap Indonesia
Editor:
Dahlan Dahi
Harga jual kertas Indonesia di Jepang memang 5% lebih murah ketimbang produk dalam negeri Jepang. Harga kertas fotokopi di Jepang sekitar 298 yen per 500 lembar (satu pak). Seorang pengusaha kertas Jepang mengakui sangat terbantu dengan kertas impor Indonesia karena harganya lebih murah dan kualitasnya bagus, warna kertas putih bersih, “Lain dengan kertas buatan Jepang sendiri yang kertasnya putih tetapi agak kekuningan. Harganya juga lebih mahal,” papar Watanabe kepada Tribunnews.com.
Produk kertas Indonesia di Jepang sudah 20 tahun beredar dan semakin lama memang semakin banyak peminatnya di negeri Sakura ini. Memang agak aneh kalau sudah 20 tahun ini justru baru sekarang diselidiki dan dituduh melakukan Dumping penjualan kertas di Jepang.
Selain itu sebuah perusahaan kertas Indonesia juga sempat membantu korban bencana di daerah Tohoku 11 Maret tahun lalu dengan mengeluarkan dana sumbangan 100 juta yen. Demikian pula belum lama ini seorang pejabat pemerintah Jepang datang ke sebuah perusahaan kertas Indonesia di Tokyo meminta bantuan kertas toilet, apabila nantinya di Tokyo terjadi gempa bumi atau bencana alam.
“Tentu saja kami pasti akan bantu Jepang dalam keadaan bencana seperti itu,” tekannya.
Diharapkan semua perusahaan kertas Indonesia sudah mengembalikan dan menjawab pertanyaan dari pemerintah Jepang per 1 Oktober mendatang. Selanjutnya 29 Oktober pertemuan dengan berbagai pihak. Lalu tim pemerintah Jepang ke Indonesia melakukan penyelidikan setempat.
Hasil sementara penyelidikan juga akan dikirimkan ke berbagai pihak, baik pihak Jepang maupun pihak Indonesia untuk ditinjau lebih lanjut. Akhirnya setelah kurang lebih satu tahun, hasil akhir penyelidikan diumumkan melanggar Peraturan Anti Dumping WTO atau tidak melanggar.
Kemarin adalah hari ketiga penyelidikan. Apabila melanggar tentu jumlah impor kertas Indonesia akan sangat berkurang dan kesempatan masuk impor kertas dari negara lain bertambah, misalnya dari Cina. Apakah Cina ada di belakang layar kasus ini? (Richard Susilo)
Baca tanpa iklan