Melihat Keunikan Koleksi Museum Zoologi Bogor
Indonesia negara yang kaya akan keaneragaman hayati seperti Brazil dan Museum Zoologi di Bogor Jawa Barat menyimpan berbagai koleksi…
Setengah Lapangan Sepakbola
Ruangan lain yang juga menarik adalah tempat koleksi penelitan dan penyimpanan serangga. Luasnya diperkirakan sekitar setengah lapangan sepak bola, paling lega dari ruangan lain. Berlorong lorong rak penyimpanan tersusun rapi.
Disinilah tempat penyimpanan terlengkap dan terbesar serangga yang terbesar di Asia. Ada sekitar tiga juta spesimen dari 12 ribu jenis. Salah satu koleksi yang tertua adalah belalang ranting yang dikumpulkan pada 1906.
Koleksi yang saya lihat bentuk dan ukurannya berbeda. Dalam satu kotak ada sekitar 15 jenis. Ada juga yang bentuknya mirip hewan pada film film kartun.
Yang membuat saya tertarik. Yaitu tempat penyimpanan koleksi hewan air tawar. Di rak rak terlihat ribuan botol dan ada juga aquarium besar. Di tempat ini baunya menyengat, itu karena koleksi diawetkan dengan alkohol.
Salah satu yang unik adalah koleksi Buaya Siam yang tak lagi ditemukan di Pulau Jawa.
"Ada jenis yang terdeteksi oleh koleksi kita dari jaman Belanda tahun 1927. Tapi ditemukannnya hanya disebut inlander di kota antara Dermaga Bogor sampai Pandegalang jenisnya Buaya Siam. Padahal ternyata buaya itu sekarang ini sampai dengan survey saat ini tidak ada," terang Ristiyanti Marwoto staff Peneliti Pusat Penelitian Biologi yang memandu saya.
Tadi baru segelintir saja yang saya lihat dan ceritakan buat anda. Paling tidak membuktikan betapa kayanya Indonesia.

Salah satu koleksi serangga museum Zoologi
Hanya memang mengelola Museum ini butuh kesabaran. Apalagi kata Ristiyanti Marwoto, dana dari Pemerintah Indonesia untuk mengelola Museum ini kurang dari satu milyar rupiah saja.
Belum lagi dana penelitian yang kurang khusus untuk keanekaragaman hayati kata Endang Sukara.
“Jauh dari memadai, kegiatan dari seluruh riset Indonesia saja kita hanya 0,05 prsen. Padahal orang lain seperti di China dua persen. Di Pakistan tiap tahun naik 10 persen. Dana untuk riset itu belum mendapat perhatian. Beda dengan pemerintahan Obama. Ketika dia terpuruk resesi ekonomi di Amerika, investasi yang awal itu buat riset. Karena science itu solusinya untuk menghadapi perubahan iklim seperti kekurangan pangan dan energi.” kata Sukara.
Kalau saja Pemerintah betul sadar akan kayanya Indonesia, tentu tak ragu menggelontorkan dana. Tantangannya juga ada pada kurangnya sumber daya manusia yang mau terjun menjadi ilmuwan bidang ini.
Baca tanpa iklan