Ditinggal Lama, Pacar Menyeleweng, Apa Boleh Buat
Sebanyak 49 warga Indonesia sejak 12 Desember 2013 berada di Tanjung Muroto, Kochi, Jepang, berkereta kira-kira
Editor:
Hendra Gunawan
Di dekat sekolah tersebut ada tempat nonton lumba-lumba bayar 420 yen per orang. Di sana Andri, Agung dan seorang lagi berkenalan dengan wanita cantik pelatih lumba-lumna Erika Takahashi. Sambil malu-malu Agung pun bertanya, "Itu ikan berapa berat?"
Si cantik Takahashi menjawab, "300 kg, panjangnya 2 meter 30 cm ada pula itu yang 3 meter," jawabnya sambil tersenyum kepada tiga anak muda Indonesia itu.
Para anak muda itu ramai-ramai juga berfoto di pinggir pantai, untuk orangtua dan pacarnya sebagai foto kenangan, kata mereka.
Menarik pula saat belanja ke sebuah toko 100 yen, beberapa orang maksudnya ingin mengirim surat buat pacar dengan sampul bagus indah, tidak tahu kalau yang berhiaskan silver untuk amplop bagi yang berduka cita. Tentu penjaga toko menjelaskan dan mereka tertawa semua. Diperlihatkanlah amplop untuk pacar dan mereka pun berebutan membeli amplop untuk wanita kesayangan kita.
Di Jepang jenis amplop beraneka ragam, baik untuk berduka cita, untuk ulang tahun, untuk pacar, untuk pernikahan, serta untk maksud lain, misalnya untuk yang baru melahirkan, dan hal lain, berbeda-beda jenis dan hiasan amplopnya.
Malam hari saat mereka belajar bahasa Jepang juga diselingi nyanyian Jepang "Kampai" sebagai cara mengingat bahasa Jepang bersama.
Acara pun diakhiri dengan foto bersama para instruktur dan guru sekolah tersebut dengan latar belakang dua bendera, Jepang dan Indonesia.
Pelatihan tiga tahun tersebut mestinya dengan visa pemagang yang melewati Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia dan pihak penerima di Jepang. Setelah tiga tahun bekerja di Jepang, biasanya tak dapat lagi ke Jepang dengan visa jenis yang sama sebagai pemagang.