Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Lee Kuan Yew Wafat, Bapak Kemakmuran Singapura yang Otoriter

Lee Kuan Yew, negarawan yang mengubah Singapura dari kota pelabuhan kecil menjadi salah satu negara Asia, meninggal dunia pada usia 91.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Lee Kuan Yew Wafat, Bapak Kemakmuran Singapura yang Otoriter
NET
Mantan perdana Singapura Lee Kuan Yew, 

TRIBUNNEWS.COM - Lee Kuan Yew, negarawan yang mengubah Singapura dari kota pelabuhan kecil menjadi salah satu negara terkuat di Asia, telah meninggal dunia pada usia 91.

Lee menjabat sebagai perdana menteri negara kota itu selama 31 tahun, dan terus bekerja di pemerintahan hingga 2011.

Selain dihormati sebagai arsitek kemakmuran Singapura, Lee juga dikritik karena gaya kepemimpinannya yang bertangan besi.

Di bawah kepemimpinannya, kebebasan berbicara dibatasi dan lawan politik menjadi sasaran oleh pengadilan.

Pengumuman duka cita ini disampaikan "dengan kesedihan yang mendalam" oleh sekretaris pers Perdana Menteri Lee Hsien Loong, putra Lee.

"Perdana Menteri sangat berduka untuk mengumumkan meninggalnya Mr Lee Kuan Yew, bapak pendiri Singapura," kata kantornya dalam sebuah pernyataan.

Dikatakan, Lee meninggal dengan damai di Singapore General Hospital pada 03:18 waktu setempat pada Senin (19:18 GMT pada hari Minggu).

Rekomendasi Untuk Anda

'Bangsa meritokratis'

Lee dinilai sebagai seorang tokoh karismatik Singapura. Ia mendirikan Partai Aksi Rakyat, yang telah memerintah Singapura sejak tahun 1959. Ia juga merupakan perdana menteri pertama negara tersebut.

Pengacara lulusan Cambridge ini memimpin Singapura ketika bergabung dengan, dan kemudian memisahkan diri dari, Malaysia - sesuatu yang dia sebut sebagai "momen kesedihan".

Berbicara pada konferensi pers setelah perpecahan pada tahun 1965, ia berjanji untuk membangun sebuah negara yang multi-rasial dan meritokratis.

Ia sepenuhnya sadar bahwa Singapura - negara tanpa sumber daya alam - membutuhkan model ekonomi baru.

"Kami tahu bahwa jika kita seperti tetangga kita, kita akan mati," kata Lee kepada New York Times pada tahun 2007.

"Karena kita tidak punya apa-apa untuk ditawarkan. Jadi kami harus menghasilkan sesuatu yang berbeda dan lebih baik dari apa yang negara tetangga miliki."

Melalui investasi dalam pendidikan, Lee menciptakan tenaga kerja berpendidikan tinggi yang fasih berbahasa Inggris.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas