Bayi orang utan sakit akibat asap kebakaran hutan
Kabut asap akibat kebakaran hutan di Kalimantan Tengah dan Timur juga mempengaruhi kehidupan para satwa dengan banyak orang utan menderita penyakit pernapasan.
Menanggapi masalah yang dihadapi satwa, Eka Soegiri, Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan saat ini belum ada langkah nyata yang dapat dilakukan untuk langsung membantu satwa.
"Tentu yang kita kerjakan tidak mungkin mengevakuasi. Yang kita kerjakan adalah memadamkan sumber api. Karena kalau sumber apinya berkurang atau makin padam, harapannya mereka akan diselamatkan," ungkap Eka.
Para pengamat mengatakan Indonesia semestinya melindungi hutan-hutannya, yang merupakan hutan tropis terbesar ke tiga di dunia sehingga masalah asap dan kebakaran hutan tidak senantiasa terjadi.
Hal itu adalah solusi jangka panjang namun sekarang pemerintah harus segera memikirkan solusi jangka pendek, kata Nyoman Iswarayoga dari WWF.
"Saya pikir, bukan hanya untuk satwa, sekarang jangka pendek nomor satu adalah padamkan api. Artinya, tekan semua titik api sampai tidak muncul lagi api dan kebakaran lahan dan hutan hingga satwa, manusia dan semua yang sekarang sudah terpapar asap selama berbulan-bulan itu berhenti terkena asapi mulai dari pagi hingga malam hari," ujar Nyoman.
Anda bisa mendengarkan liputan selengkapnya dalam program Lingkungan Kita, yang disiarkan melalui radio-radio mitra BBC Indonesia, Rabu, 14 Oktober 2015 pukul 05.00 dan 06.00 WIB.
Baca tanpa iklan