Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
BBC

Merekam sejarah yang mulai terkikis dari Pulau Buru

Polisi sempat melarang pemutaran film dokumenter berjudul Pulau Buru Tanah Air Beta atas alasan keamanan. Kenapa? Wartawan BBC Isyana Artharini menontonnya dan tetap tertanya-tanya.

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Sebuah film dokumenter berjudul Pulau Buru Tanah Air Beta yang asalnya akan diputar di Goethe Institute dibatalkan oleh polisi atas alasan keamanan setelah muncul ancaman protes dari sebuah ormas pada Rabu (16/3).

Namun acara pemutaran film tetap diadakan meski pindah ke gedung Komnas HAM.

Pulau Buru Tanah Air Beta menampilkan kisah dua tahanan politik yang pernah dibuang ke sana, yaitu Hersri Setiawan dan Tedjabayu Sudjojono, yang kembali ke pulau tempat masa-masa tergelap kehidupan mereka.

Hersri kembali ke sana bersama anak perempuan dan istrinya untuk menunjukkan tempat-tempat saat dia berdiam selama sembilan tahun, sejak 1969 sampai 1978.

Film dokumentar disutradarai Rahung Nasution sesekali menggunakan puisi-puisi Hersri untuk memberi warna pada adegan-adegan yang sebenarnya monoton.

Dalam film, Hersri memang bertemu dengan para mantan tapol yang masih tinggal di sana, meski tak banyak dialog yang terjadi antara mereka, mungkin karena mereka sudah terlalu tua sehingga sudah sulit mendengar satu sama lain. Atau mungkin juga karena film memang kurang banyak menampilkan adegan percakapan antara para tapol.

Namun dari film ini, terlihat bahwa tak banyak lagi peninggalan dari masa tahanan politik di Pulau Buru -paling tidak begitulah penangkapan saya.

Monumen yang tersisa

Rekomendasi Untuk Anda

Satu yang dikunjungi oleh Hersri dan Tedjabayu adalah gedung kesenian di desa Savanajaya yang dulu mereka bangun, meski gedung itu kini sudah menjadi bangunan permanen, berbeda dari yang dulu mereka dirikan.

Terhadap pentingnya adegan ini, sutradara Rahung Nasution mengatakan, "Tempat itu kan satu-satunya sekarang monumen di Pulau Buru yang kita bisa lihat bahwa di situ pernah ada tragedi kemanusiaan."

Setelah pelarangan, pemutaran film yang asalnya akan dilakukan di Goethe Institute pindah ke gedung Komnas HAM dan ramai dihadiri orang.

"Dulu ruang itu adalah tempat pertunjukan kesenian yang mereka bangun dari kayu, yang artistik menurut mereka, dibangun dengan cara seperti itu, sekarang (menjadi) tempat yang asal-asalan, dibeton, dan semua seakan jejak-jejak mereka dihilangkan," tambahnya.

Semakin sedikitnya peninggalan sejarah di Pulau Buru membuat Hersri cemas, akankah generasi muda Indonesia ingat atau tahu apa yang dulu terjadi padanya dan 850 orang lain di Pulau Buru?

Saat ditemui seusai pemutaran film, Hersri mengatakan, "Teman-teman saja tinggal 70 (yang masih hidup). Asal mereka bertahan hidup saja, dan sekarang mereka sudah tua-tua, paling sedikit sudah 70 tahun. Sudah beberapa hari terakhir ini, saya mendengar kabar ada empat teman yang meninggal. Kalau hilang semua, ya bagaimana (kisah Pulau) Buru nanti jadinya?"

Perekam perjalanan

Teknik penceritaan film Pulau Buru Tanah Air Beta ini sederhana saja. Dua orang mantan tapol kembali ke pulau yang menurut mereka pernah menguji kemampuan mereka sebagai manusia untuk bertahan hidup.

Film memang menunjukkan kerasnya alam Buru, namun kisah yang disampaikan oleh Hersri dan Tedjabayu sebenarnya cukup datar.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/2
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas