Demi Bersekolah, Anak-anak Ini Harus Memanjat Tebing Curam Setinggi 800 Meter Setiap Hari
Zhang Li, reporter televisi resmi China CCTV, yang juga dikirim ke daerah pegunungan Atuler, menangis saat ia harus berusaha mencapai desa itu.
Editor:
Malvyandie Haryadi
"Ini sangat berbahaya. Anda harus 100 persen hati-hati,” kata Chen kepada The Guardian. "Jika Anda mengalami sedikit kesalahan, Anda akan jatuh langsung ke jurang yang dalam,” katanya.
Beijing News/Chen Jie - Anak-anak Desa Atuler memanjat tebing curam jika akan ke sekolah di puncak gunung.
Zhang Li, reporter televisi resmi China CCTV, yang juga dikirim ke daerah pegunungan Atuler, menangis saat ia harus berusaha mencapai desa itu.
“Apakah kita harus pergi dengan cara ini?” kata Zhang yang bersama timnya harus beringsut meniti setapak demi setapak tebing curam. “Saya tidak mau pergi,” katanya.
Api Jiti, Depala Atuler mengatakan kepada Beijing News, bahwa tidak ada cukup ruang untuk membangun sekolah sehingga mereka harus ke puncak gunung.
Atuler dihuni oleh 72 keluarga penghasil paprika dan kenari itu.
Mereka mendiami lembah yang sangat dalam dan sempit di sekitar palungan sungai.
Kepala desa mengatakan, bahwa "tujuh atau delapan" warga desa telah tewas akibat jatuh ke jurang saat meninti jalan setapak yang curam itu.
Api sendiri pernah hampir jatuh saat menuruni jalan.
Perjalanan ke sekolah sekarang dianggap begitu melelahkan dan berbahaya.
Anak-anak telah dipaksa untuk naik ke sekolah di puncak gunung.
Agar tidak melelahkan, anak-anak akan kembali menjenguk keluarga dua kali dalam sebulan.
Seorang warga Desa Atuler, Chen Jigu, menuturkan, tangga kayu yang digunakan untuk naik dan turun di jalan setapak tersebut, dibuat ratusan tahun lalu.

Beijing News/Chen Jie - Seorang bocah sedang memijakkan kakinya di tebing di Desa Atuler, China.
“Kami baru mengganti tangga itu dengan yang baru ketika kami menemukan salah satu di antaranya telah lapuk,” kata Chen Jigu.
Lebih dari 680 juta warga China telah membebaskan dirinya dari kemiskinan sejak ekonomi negara itu mulai maju pada tahun 1980-an.
Namun, kemiskinan paling buruk masih melanda desa-desa terpencil, antara lain seperti dialami warga Desa Atuler, yang dilaporkan hidup kurang dari 1 dollar AS atau Rp 13.500 per hari.
Baca tanpa iklan