Kisah Pilu 2 Anak Indonesia yang Lahir di Daerah Perang Suriah
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Damaskus, Suriah, Rabu (30/11/2016), merepatriasi 26 orang WNI/TKI dari Suriah melalui Lebanon.
Editor:
Sugiyarto
Pada Juli 2016, KBRI Damaskus berhasil menarik Nani beserta anaknya dari Pusat Penahanan Imigrasi ke shelter KBRI Damaskus.
Selama tinggal di shelter KBRI, Mohammad Hilman kerap menanyakan Samir dan istrinya yang dikenalnya sebagai orangtuanya, sedangkan Nani hanyalah pembantu Samer.
Sementara Sri Budi Setyowati Sudardi asal Makasar berangkat ke Aleppo sebagai TKW pada April 2003.
Menurut keterangannya, ia berangkat dengan paspor palsu keluaran Kantor Imigrasi Jakarta Barat.
Nama asli Sri Budi adalah Suwi Daeng Bau asal Makassar, tetapi dibuatkan paspor di Jakarta Barat dengan nama Sri Budi Setyowati Sudardi asal Surabaya.
Setelah bekerja selama lebih dari tujuh tahun di Aleppo, pada 2010, Sri Budi alias Suwi berkenalan dan menikah dengan supir taksi bernama Muhammad Khoyawi.
Sejak saat itu, Sri Budi alias Suwi tinggal bersama Muhammad Khoyawi dan dikaruniai anak bernama Muhannad Touja yang lahir di Aleppo, 18 Oktober 2012.
Di tengah kecamuk konflik yang melanda Aleppo, KBRI Damaskus menyelamatkan Sri Budi alias Suwi pada Juli 2016 ke shelter KBRI cabang kota Aleppo.
Saat itu, konflik di Aleppo mencapai eskalasi konflik tertinggi.
Setelah menunggu jalanan ke Damaskus aman dilalui, pada Agustus 2016, Sri Budi alias Suwi beserta anaknya Muhannad Touja dibawa ke shelter Damaskus.
Setelah perjuangan panjang Kepolisian Suriah, sidang demi sidang di pengadilan, dan pengurusan dokumen keimigrasian, Nani Nuraeni bt Sail beserta anaknya Mohammad Hilman dan Sri Budi Setyowati Sudardi beserta anaknya Muhannad Touja dapat dikeluarkan dari Suriah pada repatriasi gelombang ke-281, Rabu (30/11/2016).
Sidqi mengatakan, KBRI Damaskus selalu mencari alternatif tercepat, teraman, dan terbaik untuk segera mengeluarkan seluruh WNI dari wilayah berbahaya Suriah.
KBRI Damaskus menyelamatkan WNI dari Suriah berkejaran dengan waktu.
“Sebelumnya repatriasi dilakukan langsung via Bandara Internasional Damaskus, pernah juga lewat Amman Jordania, kini lewat Beirut, Lebanon."
"Yang penting keselamatan WNI lebih terjamin dengan secepatnya meninggalkan Suriah,” katanya. (*)
Baca tanpa iklan