Agar game buatan Indonesia jadi tuan rumah di negeri sendiri
Bisnis permainan atau game pada komputer dan telepon seluler di Indonesia kini mencapai ratusan juta dollar. Namun, dari jumlah itu, hanya segelintir yang dihasilkan pembuat game Indonesia.
Glenn mengaku telah mengumpulkan Rp50 juta yang berasal dari tabungan pribadi dan pinjaman orang-orang terdekat. Namun, dia tidak mendapat pinjaman bank karena pihak bank meragukan bisnis yang dia dirikan.
Masalah modal, menurut Narenda Wicaksono dari Dicoding Space, perusahaan penyedia jasa pelatihan teknologi informasi, memang menjadi kendala pembuat game di Indonesia.
"Bagaimana mereka mau mencari pinjaman? Pihak bank kan hanya mau memberi pinjaman pada jenis usaha yang konvensional, sedangkan pembuat game masih dianggap sebelah mata," kata Narenda.
Dari ratusan juta dollar Amerika Serikat yang dihasilkan game di Indonesia, pembuat game Indonesia hanya mendapat kurang dari 10% dari kue penghasilan tersebut.
Kue penghasilan
Berdasarkan data lembaga analisis pasar internet , Newzoo, penghasilan bisnis game di Indonesia mencapai hampir US$600 juta (sekitar Rp8 triliun) pada 2016 saja. Bahkan, pertumbuhan pasar game Indonesia adalah yang terbesar di Asia Tenggara.
Akan tetapi, pembuat game Indonesia hanya mendapat kurang dari 10% dari kue penghasilan tersebut.
Agar pembuat game Indonesia tidak menjadi tamu di negeri sendiri, peran pemerintah amat didambakan untuk membantu memecahkan solusi pendanaan, memajukan infrastruktur internet, dan meningkatkan sumber daya manusia.
"Pemerintah tentu bisa membuat regulasi-regulasi untuk mencabut penghalang, seperti pendanaan. Sebagai contoh para pembuat game sebaiknya tidak perlu membuat badan usaha, karena mereka modalnya sangat minim. Kalaupun ada pemodal mau tanamkan uang, itu agak susah karena terbentur regulasi," kata Narenda.
Hal yang tak kalah pentingnya, lanjut Narenda, adalah sumber daya manusia yang menciptakan game.
"Harusnya ada kurikulum di sekolah menengah kejuruan untuk membuat coding atau bahasa komputer yang nantinya bisa dipakai untuk menciptakan aplikasi lain, tak hanya game. Nah, pemerintah bisa memfasilitasi itu," ujar Narenda.
Kaum muda pembuat game mengaku kesulitan mengumpulkan dana untuk modal usaha, meski kualitas game mereka dinilai bisa bersaing dengan game buatan luar negeri.
Upaya pemerintah Indonesia
Kepala Badan Ekonomi Kreatif atau Bekraf, Triawan Munaf, menyadari bahwa para pembuat game kesulitan menembus pasar di negeri sendiri, walau kualitas game tidak kalah dengan game asing.
Dia mengaku sedang berupaya memfasilitasi para pelaku industri game di Indonesia.
"Kita membentuk sekumpulan komitmen dari bank dan lainnya. Kami sedang bekerja keras, juga sedang dikerjakan Kementerian Keuangan, bagaimana pemerintah bisa melakukan hibah ataupun investasi pada usaha perintis atau startup di mana para investor belum berani karena masih terlalu berisiko," kata Triawan.
Namun, dia menambahkan, pendanaan langsung masih sulit dilakukan.
"Kami belum bisa melakukan itu. Akan melanggar undang-undang kalau pemerintah ikut menyertakan dana ke startup. Jadi kami belum bisa menyediakan dananya," kata Triawan.
Baca tanpa iklan