Beginilah Cara Suap-menyuap Ala Orang Jepang
Salah satu cara dengan membeli kotak makanan berisi manju, kue tepung mirip roti mantou
Editor:
Johnson Simanjuntak
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Siapa bilang di Jepang tidak ada sogok menyogok terhadap masyarakatnya terutama saat pemilihan umum (pemilu)?
Bukan hanya politik swasta pun melakukan hal demikian supaya bisnisnya lancar.
"Tahun 2004 Januari saat pemilu di perfektur Aomori, para kandidat melakukan sogokan ke masyarakat langsung dengan bermacam cara," ungkap sumber Tribunnews.com Jumat ini (5/5/2017).
Salah satu cara dengan membeli kotak makanan berisi manju, kue tepung mirip roti mantou, berisi umumnya kacang merah manis, dibungkus plastik.
Lalu bagian bawah kue manju itu biasanya diselipkan lembaran uang tunai puluhan ribu.
"Ada yang seratus ribu yen dan macam-macam per keluarga masyarakat di sana," paparnya lagi.
Ada pula yang menyelipkan di bawah keset depan rumahnya dan bahkan ada pula yang langsung di dalam amplop di selipkan ke sekitar lokasi makanan sehingga saat beres-beres, misalnya taplak meja diangkat, kelihatanlah amplop berisi uang tersebut. Tentu setelah tamu pulang pemberesan meja makan tersebut.
Model bagi-bagi uang tunai masih tetap dilakukan sampai saat ini namun dengan berbagai cara di Jepang.
Tidak sedikit memberikan kartu keanggotaan klub golf. Mengapa? Karena bisa dijual kepada orang lain.
Kartu keanggotaan club golf seperti saham bisa dijual lagi dan harganya juga sekitar satu juta yen untuk jadi anggota sebuah klub golf di Jepang dengan memiliki kartu keanggotaan tersebut.
Cara suap-menyuap lain tentu dengan menghibur orang itu ke klub sangat mahal, klub khusus dengan pelayan restoran wanita yang sangat cantik dan seksi.
Umumnya sekali masuk klub khusus tersebut bisa habis satu juta yen per orang.
Tentu saja boleh sentuh pegang sang wanita dengan lembut. Soal hubungan seks ya tergantung kedua insan tersebut.
"Kini settai atau servis pada tamu, khususnya ke klub eksklusif mulai sedikit karena keadaan ekonomi tidak begitu baik seperti saat bubble ekonomi awal tahun 1990-an lampau," tambahnya lagi.