Kisah perempuan yang mengembalikan keperawanan di Tunisia
Di Tunisia, para perempuan muda diharapkan menjaga keperawanan mereka sampai tiba waktunya menikah.
"Itu sangat menganggu saya. Sikap semacam itu adalah perwujudan dari budaya masyarakat yang didominasi pria lalu dibungkus dengan prinsip-prinsip agama. Saya jujur ketika saya mengatakan sikap semacam itu adalah dominasi pria dan saya melancarkan perang untuk melawannya," sambungnya.
'Munafik'
Tunisia dipandang sebagai pemimpin hak-hak perempuan di Afrika Utara, namun agama dan tradisi di sini menggariskan bahwa perempuan harus tetap perawan sampai tiba saatnya menikah.
Ada pula pasal dalam undang-undang di Tunisia yang khusus mengatur perceraian apabila seorang perempuan ternyata tidak perawan saat pertama menikah.
"Pada masyarakat Tunisia, yang sebenarnya masyarakat terbuka, kita menjadi orang-orang munafik. Ada semacam kekolotan sosial yang dominan sejak lama yang sulit dibenarkan karena kita mengklaim hidup di masyarakat modern. Namun, tidak banyak kemodernan jika menyangkut seksualitas dan kebebasan perempuan," tutur sosiolog Tunisia, Samia Elloumi.
Di sebuah universitas negeri, saya berjumpa dengan Hichem. Mahasiswa berusia 29 tahun ini akan menikah tahun depan. Saya bertanya sikapnya soal keperawanan tunangannya.
"Bagi saya, itu sangat, sangat penting. Jika saya tahu dia bukan perawan setelah menikah, saya tidak akan mempercayainya lagi. Saya menganggapnya sebagai pengkhianatan. Saya tidak percaya dengan operasi hymenoplasty. Saya kira itu tidak bisa menggantikan," kata Hichem.
Duduk di sebelah Hichem, seorang mahasiswa bernama Radhouam. Dia menilai tradisi Tunisia terlalu keji untuk kaum perempuan.
Baca tanpa iklan