Staquf: Islam Mampu Mendamaikan Palestina
Yahya Cholil Staquf dihujani kecaman ketika menawarkan dialog dengan Israel. Kepada DW, Katib Aam PBNU itu menjelaskan kenapa pendekatan…
Benjamin Netanyahu baru-baru ini mengatakan umat Muslim harus berhenti berangan-angan bahwa Israel suatu saat akan menghilang dari peta Bumi. Apakah dia benar?
Itu ekspresi dia untuk mengatakan bahwa dia mau mempertaruhkan segalanya, kalau perlu mengajak semua orang hancur bersama-sama. Sehingga makna dari pernyataan itu ya Israel tidak akan menyerah dengan harga apapun. Sekarang berarti kita berhadapan dengan pilihan kita mau terus berkonflik sampai semua musnah atau kita berhenti dan berdamai.
Seberapa penting keyakinan bahwa Israel akan musnah buat kaum Muslim?
Lagi-lagi ini soal kebutuhan untuk rekontekstualisasi. Selama hampir 13 abad sejak Sayyidina Umar bin Abu Thalib wilayah yang sekarang diduduki Israel berada di bawah kekuasaan penguasa Muslim. Sehingga kemudian ketika jatuh ke tangan penguasa Yahudi, pasti ada kekecewaan besar. Nah sekarang persoalannya adalah apakah ini benar-benar isu agama atau isu politik? Kalau ini dianggap isu agama, manusia tidak punya pilihan selain bertarung. Selama ini konflik Palestina kan dianggap isu agama. Nah ini menurut saya hanya akan memperkeras konflik dan kalau konflik ini diteruskan satu-satunya jalan keluar adalah kehancuran bersama.
Makanya keyakinan saya adalah agama menginginkan supaya manusia membangun perdamaian. Maka interpretasi yang mendorong kepada konflik harus diubah.
Apakah mungkin melakukan rekontekstualisasi tafsir Islam dalam kaitannya dengan konflik dengan Israel?
Sangat mungkin karena sebetulnya interpretasi keagamaan itu sangat beragam. Kalau kita lihat sejarah perkembangan pemikiran Islam misalnya, pada awal era pergesekan Islam dengan peradaban baru setelah merambah ke Persia, interpretasi Islam saat itu sudah sangat beragam, bahkan boleh dikatakan liar. Tapi sejalan dengan semakin mapannya sistem politik yang dibangun, akhirnya ada seleksi terhadap tafsir. Dan interpretasi yang dikukuhkan adalah yang melegitimasi sistem politik yang ada. Sebenarnya kalau kita merujuk pada tafsir yang dulu pernah ada, saya yakin pasti ada referensi yang bisa kita gunakan untuk memahami realitas masa kini dengan lebih konstruktif.
Bagaimana dialog bisa menjadi pilihan, terutama di tengah korban sipil yang sampai saat ini masih terus berjatuhan?
Pertama kita harus menginginkan perdamaian. Itu saja dulu. Mau terus perang sampai semua musnah atau perdamaian. Sekarang kalau pilih perdamaian, maka harus dialog. Tapi dialog saja tidak cukup. Dialog harus diiringi dengan gerakan sosial supaya aspirasi untuk perdamaian menjadi konsensus di tingkat masyarakat. Sehingga para pemimpin politik akan membangun kebijakan-kebijakan berdasarkan aspirasi perdamaian itu.
Kenapa pendekatan politik dan militer gagal mendamaikan Palestina dan Israel?
Karena kalau kita lihat konstelasi kekuatan yang ada, memang sulit satu pihak bisa mengungguli yang lain. Nyaris mustahil. Yang kedua karena pendekatan politik dan militer tidak memiliki komitmen terhadap moral kemanusiaan, maka setiap pihak tidak segan-segan mengingkari komitmen yang sudah dibuat dalam kesepakatan perdamaian. Karena masing-masing hanya mengejar keuntungan bagi pihaknya sendiri.
Kalau sebenarnya perdamaian itu memang menjadi komitmen semua pihak dan semua bersedia dialog, maka mungkin format-format di mana kedua pihak bisa bekerjasama akan bisa ditemukan. Negara kan hanya manifestasi dari kehendak politik masyarakat. Tapi yang paling mendasar sebetulnya adalah hak hidup milik semua orang. Bahwa orang Yahudi juga berhak hidup sebagaimana kaum Muslim. Jangan sampai salah satu pihak menganggap yang lain harus musnah.
Kenapa diskursus nasional di Indonesia terkait masalah Palestina belum mampu membuahkan konsensus perdamaian?
Di Indonesia ketika orang berbicara isu Palestina, maka ada dua kelompok di situ. Pertama kelompok yang betul-betul prihatin atas masalah Palestina. Yang kedua kelompok yang sekedar memanfaatkan isu Palestina untuk kepentingannya sendiri secara domestik. Sehingga yang dilakukan hanya agitasi tanpa strategi yang konstruktif untuk membantu Palestina. Nah maka kita perlu mengembangkan diskursus tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh rakyat Palestina. Bagaimana mereka bisa memperoleh kesempatan buat membangun masa depan mereka sendiri. Diskursus inilah yang harus dikembangkan di Indonesia. Bukan soal membela Palestina dan memusuhi Israel atau Amerika. Pemikiran ini tidak menawarkan solusi apapun selain kehancuran.
Sejak era Gus Dur tidak banyak tokoh Muslim yang cukup berani menjulurkan tangan kepada Israel, lantaran besarnya antipati kaum Muslim. Anda pun mendapat banyak serangan terkait lawatan ke Israel. Kenapa anda tetap bersikeras melakukannya?
Ya karena saya sendiri tidak punya terlalu banyak untuk dipertaruhkan. Kalau Gus Dur kan, saya tidak tahu apakah suatu saat akan muncul tokoh seperti beliau lagi, karena beliau mempertaruhkan banyak hal untuk memperjuangkan cita-cita perdamaian. Kalau saya sendiri tidak banyak yang dipertaruhkan. Saya tidak punya posisi yang terlalu menentukan dan memang saya melakukan ini sebagai upaya untuk mengangkat kembali gagasan Gus Dur. Saya kan tidak menawarkan sesuatu yang signifikan dari diri saya sendiri. Yang paling saya pikirkan adalah gagasan Gus Dur untuk menambahkan moralitas agama di dalam proses perdamaian. Jadi yang saya lakukan adalah bagaimana melakukan operasionalisasi dari gagasan itu.
