Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
BBC

Bunga bangkai ditemukan di Sukabumi dan Kudus: 'Bukan tumbuhan langka'

Penemuan bunga bangkai di permukiman penduduk di Sukabumi dan Kudus telah menarik perhatian, tapi pakar botani mengatakan bunga bangkai itu

Tribun X Baca tanpa iklan

Genus Amorphophallus adalah bagian dari suku Araceae atau talas-talasan. Menurut Yuzammi, terdapat 26 jenis Amorphophallus yang tersebar di seluruh Indonesia.

Berbeda dari Rafflesia

Perlu dicamkan, Amorphophallus berbeda dari Rafflesia, meski keduanya dijuluki bunga bangkai.

Rafflesia adalah tanaman parasit, yang mendapatkan nutrisi dari inangnya, dan karena itu tidak memiliki batang maupun daun (karena tidak perlu fotosintesis). Tumbuhan ini biasanya bersimbiosis dengan tanaman merambat dari genus Tetrastigma. "Dia ibarat kutil," kata Yuzammi.

Sedangkan Amorphophallus adalah tumbuhan asli atau mandiri, yang mengolah makanannya sendiri dan menyimpan cadangan makanan dalam bentuk umbi. Namun demikian, ia disebut sebagai tumbuhan primitif.

Bentuk yang dikira orang awam sebagai bunga sebenarnya adalah tanaman utuh. Bunga sebenarnya tersimpan di dalam struktur yang menjulang ke atas atau tongkol.

"[Di dalam tongkol] ada bunga jantan dan betina. Bunga jantan dan bunga betina terpisah. Masing-masing bunga tidak mempunyai kelopak, yang merupakan ciri tumbuhan primitif," tutur Yuzammi.

Sedangkan bagian yang mirip mahkota bunga disebut seludang, yang berfungsi melindungi calon buah jika terjadi pembuahan. Warnanya yang cerah juga menarik serangga penyerbuk.

Rekomendasi Untuk Anda

Adapun bau busuk berfungsi untuk menarik perhatian serangga penyerbuk tertentu. Bunga Amorphophallus mekar pada malam hari sehingga membutuhkan serangga malam yang mampu terbang jauh seperti lebah, ngengat, atau lalat hijau — semuanya tertarik pada bau busuk.

Bisa dimakan

Salah satu riset yang tengah dilakukan di Kebun Raya Bogor adalah mengembangkan umbi dari bunga bangkai A. paeoniifoliusmenjadi sumber pangan fungsional.

Prinsipnya sama seperti singkong. Umbi mengandung pati yang merupakan sumber karbohidrat. Dan kendati julukan "bunga bangkai" yang disandang A. paeoniifoliusmembuat kita membayangkan bau tidak sedap, umbinya sama sekali tidak bau, kata Yuzammi.

Faktanya, menurut Yuzammi, umbi A. paeoniifoliustelah dimanfaatkan beberapa warga di Jawa timur sebagai pangan selingan. "[Cara memasaknya] cukup dikukus dan diberi bumbu kelapa dan garam," ujarnya.

Namun Yuzammi mewanti-wanti bahwa tidak semua bunga bangkai bisa dimakan. Ada dua kultivar A. paeoniifolius, yaitu walur yang berbatang sangat kasar dan suweg yang batangnya tidak begitu kasar. Dari kedua itu, hanya suweg yang bisa dimakan karena kandungan oksalat di dalamnya lebih rendah sehingga tidak menimbulkan rasa gatal ketika dimakan.

Penelitian di Kebun Raya Bogor bermaksud menciptakan makanan yang lebih beragam. Sejauh ini, tim peneliti telah berhasil mengolah tepung dari umbi suweg menjadi berbagai penganan seperti cistik, brownies kukus, kue onde, dan opak.

"Kami juga sudah uji organoleptik (uji bau dan rasa) dan oke, masyarakat bisa menerima itu," ungkap Yuzammi.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/2
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas