Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Sport
LIVE ●
BBC

Bonus yang tak sepadan di ajang Paralympic Asian Games

Gelaran Paralympic Asian Games 2018 menyisakan persoalan terkait perolehan bonus, yang disebut pelatih cabang para cycling tak sesuai dengan

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Jika memakai hitungan pengkalian angka itu dengan perolehan medali, maka Puspita semestinya menerima Rp2,2 Miliar.

Akan tetapi besaran yang diterima Puspita jauh dari angka itu dan belakangan terlambat dibayarkan sampai tiga bulan.

Persoalan serupa juga pernah dialami pasangan ganda putra bulu tangkis Indonesia, Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon, karena bonus yang dijanjikan kepada mereka sebagai juara All-England terlambat dibayarkan sampai lima bulan.

"Dari angka itu aja perbandingannya jauh dengan yang saya terima. Ini kan jadi pertanyaan yang harus saya tahu. Saya pun kepada atlet tidak pernah minta (jatah) sepeser pun. Karena kemenangan mereka adalah suatu kebangaan bagi saya yang nilainya lebih dari itu," ungkapnya.

Menanggapi persoalan ini, Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga, Raden Isnanta, melemparnya kepada National Paralympic Committee (NPC).

Ia mengatakan rekomendasi seorang pelatih berkontribusi pada perolehan medali dan merupakan usulan NPC. Kemenpora, kata dia, hanya bertugas menghitung besaran bonus sesuai aturan yang ada.

"Saya mengacu dari NPC yang menuliskan bahwa pelatih A mendapat medali A. Kami lalu buat perhitungan atas nilai bonus," ujar Raden Isnanta kepada BBC News Indonesia, Jumat (28/12).

Rekomendasi Untuk Anda

"Jadi kalau mau protes ke NPC dulu. Karena data saya dari sana yang memberikan usulan," sambungnya.

Terkait dengan situs kemenpora.go.id yang mengoreksi angka bonus Puspita, klaimnya, merupakan kekeliruan pihak media Kemenpora dan tidak ada kaitan dengan dirinya. Baginya, kesalahan seperti itu bisa saja terjadi. Ia juga mengklaim tak ada perubahan nominal sejak penghitungan awal.

"Jadi nggak pernah ada angka lain. Kalau media salah, biasa. (Anda) sebagai media juga pernah salah kan? Jadi media Kemenpora bisa juga salah," imbuhnya.

Kalaupun kasus ini berkepanjangan Kemenpora, kata dia, bakal bertindak.

"Kecuali nanti terjadi perdebatan dan ada salah persepsi, baru (kemenpora) bersikap. Tapi protes tidak selalu benar. Begitupun sebaliknya."

'Bagi-bagi' bonus Para Games

Perwakilan bidang Pembinaan dan Prestasi NPC, Rima Ferdiyanto, membantah adanya nama fiktif Agus Sundardi yang masuk dalam tim cabang olahraga balap sepeda.

"Baik dari NPC maupun Kemenpora tidak ada nama Agus sebagai penerima bonus fiktif tersebut," ujar Rima kepada wartawan di Solo, Jumat (28/12) dengan dikuatkan oleh Koordinator Cabang Olahraga Para Cycling, Fadillah Umar, yang membawa satu bundel kertas yang merupakan SK kontingen dan menjadi dasar pengajuan bonus.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/3
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas