Ketika ayah ke pengadilan menuntut anak memberinya uang perawatan
Seorang ayah menunutut anak kandungnya sendiri ke pengadilan setelah mengklaim sang anak tak mau memberinya uang perawatan.
Meskipun demikian, perubahan kebijakan kemungkinan akan menghadapi penolakan di negara seperti AS dan Inggris. Akademisi Harvard, James Sabin mengatakan kecil kemungkinan hukum seperti ini akan didukung di AS.
Ia mengatakan AS berada di "kutub lain" dibandingkan negara yang memperhatikan masyarakat seperti Singapura.
"Sebagai sebuah masyarakat kami relatif tidak ingin mencampuri hak pribadi," katanya.
Dia juga menekankan kemungkinan bahaya dalam kasus di mana anak memandang orang tua tidak berhak mendapatkan perawatan.
"Sejumlah orang akan mengatakan, 'orang tua saya menelantarkan saya, orang tua saya melecehkan saya' ... sangat berbeda dengan pandangan Confucian terhadap generasi yang lebih tua," kata Profesor Sabin.
"Saya berpikir kita tidak ingin bergantung kepada pengadilan terkait dengan penilaian kemasyarakatan-kejiwaan seperti ini."
Tetapi bagi Taher, sistem di Bangladesh telah terbukti memberikan bantuan.
Dia mencapai kesepakatan dengan anak laki-lakinya di luar pengadilan. Shahjahan sepakat membayar 10.000 taka atau Rp1,6 juta untuk ayahnya setiap bulan.
Sampai sejauh ini dia melaksanakan kesepakatan dan Taher mengatakan jika anak laki-lakinya tetap membayar, dia akan mencabut kasus dari pengadilan setempat di Chittagong.
Baca tanpa iklan