Lebaran: Kiat mensiasati hidangan hari raya bagi pasien diabetes
Momen lebaran dengan berbagai hidangan khas, kata ahli gizi, tidak harus menjadi siksaan bagi penderita diabetes jika saja mereka mengikuti
Akan tetapi sebagian besar hidangan lebaran pada umumnya kaya akan karbohidrat dan lemak.
"Hindari lapar mata. Kadang-kadang di hadapan kita ada salad, ada sayur-sayuran yang segar. Makanan itu yang didahulukan, diperbanyak. Nah, setelah setengah kenyang, otomotis nanti menu yang lain hanya dicicipi, sedikit saja," jelas Kuncoro.
Ia mengaku telah mempraktikan langkah tersebut secara langsung karena ia sendiri telah mengalami diabetes selama 24 tahun terakhir dan mengaku mampu hidup normal dengan mengikuti jurus-jurus hidup sehat.
Opor ayam tanpa kulit
Bagi Kuncoro, menikmati opor ayam atau rendang tidak menjadi masalah ketika lebaran tiba atau pada hari-hari besar lainnya.
"Kulit ayamnya kita buang. Kalau rendang, jangan ambil bumbunya secara berlebihan, bagian lemaknya dibuang, kemudian kita ambil daging murninya saja."
Jurus berikutnya, sejatinya tidak terbatas berlaku bagi penderita diabetes tetapi juga berlaku bagi orang yang sehat sekali pun, adalah berolahraga.
"Olahraga rutin antara 30 sampai 60 menit, sesuai kemampuan," jelas dr Natalia Emmy, ahli gizi di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.
Jika kemampuan pasien diabetes berjalan cepat maka itulah yang dapat ia lakukan. Berenang disebut sebagai salah satu olahraga ideal untuk penderita diabetes sebab tidak memberikan tekanan pada sendi, dapat menurunkan tingkat stres dan tentu membakar kalori.
Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) cabang Bogor, Kuncoro, menjelaskan mengapa pasien diabetes, tidak hanya selama lebaran, semestinya rutin berolahraga.
"Karena dengan berolahraga itu akan menurunkan kadar gula darah antara tujuh sampai 20 kali lipat dibandingkan tanpa olahraga."
Kuncoro merupakan salah seorang dari sekitar 10,3 juta orang yang mengalami diabetes di Indonesia, negara peringkat keenam di dunia setelah China, India, Amerika Serikat, Brasil dan Meksiko. Data itu berasal dari International Diabetes Federation (IDF) Atlas tahun 2017.