Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
BBC

Bianca Devins: Kisah pembunuhan seorang remaja yang dieksploitasi di media sosial

Foto-foto pembunuhan Bianca Devins dibagikan secara luas di dunia maya. Pengamat teknologi mengatakan kejadian ini mengungkap masalah yang lebih

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Ketika seorang petugas berhasil melacaknya ke area berpohon di penghujung jalan perumahan, tersangka menusuk dirinya sendiri di bagian leher. Ia kemudian berbaring di atas terpal, yang menurut polisi sebelumnya ia pakai untuk menutupi tubuh Bianca, sambil terus mengambil foto-foto dan mengunggahnya ke dunia maya.

Setelah pergumulan singkat, tersangka ditangkap dan dibawa ke rumah sakit. Sehari kemudian, setelah operasi darurat, ia didakwa dengan pembunuhan Bianca.

Swafoto Bianca, diambil dari Instagram
@beegtfo

Berita pembunuhan menyebar di dunia maya

Instagram belum mengonfirmasi kapan mereka menerima laporan pertama tentang gambar kekerasan di story tersangka yang terbuka untuk publik. Tapi pada Minggu keesokan harinya, kabar mulai menyebar ke luar lingkaran sosial Bianca, banyak yang dibuat keruh oleh informasi keliru.

Pada Minggu sore, para pengguna Twitter mulai membicarakannya dan membagikan kiriman-kiriman Instagram itu. Pengguna lainnya memohon orang-orang untuk tidak melihat story tersangka dan melaporkan akunnya.

Awalnya, para pengguna mengatakan laporan mereka ditolak karena kiriman itu tidak melanggar ketentuan Instagram. Ketika ditanyai BBC, Instagram tidak mengatakan berapa lama kiriman asli pada story tersangka dibiarkan, tapi tangkapan layar menunjukkan bahwa kiriman-kiriman itu bisa dilihat oleh publik selama lebih dari 20 jam.

Dr. James Densley, pakar hukum pidana di Minnesota, mengatakan kekerasan yang dilakukan secara terang-terangan seperti ini berisiko menimbulkan trauma sekunder pada penonton, juga terus-menerus menempatkan Bianca sebagai korban.

"Kita punya istilah untuk membiarkan orang meninggal istirahat dengan tenang," ujarnya kepada BBC. "Yah, sungguh, Bianca tidak bisa, karena ia terus hidup dalam kehinaan di dunia maya setiap kali gambarnya dibagikan."

Rekomendasi Untuk Anda

Beberapa orang yang pertama membicarakan pembunuhan ini adalah para pengguna di situs web 4chan — forum internet yang hampir tidak dimoderasi tempat pengguna bisa berkirim pesan secara anonim.

Situs web itu, dan versi lain yang lebih ekstrem 8chan, mendapat reputasi buruk dalam beberapa tahun belakangan karena retorika radikal yang diunggah beberapa penggunanya dan kaitan mereka dengan sejumlah serangan mematikan.

Sebelum 51 orang tewas ditembak di dua masjid di Christchurch pada Maret lalu, manifesto tersangka penembaknya diunggah ke 8chan. Ia juga menyiarkan aksinya secara langsung lewat streaming di Facebook, di awal aksinya mengajak para penonton untuk "Berlangganan ke PewDiePie".

Meme ironis tentang seorang YouTuber populer ini juga tampaknya digunakan oleh tersangka pembunuh Bianca setelah ia mengunggah gambar-gambar aksinya ke Discord.

Tindakan ini, dan komentar lain yang dikaitkan dengan tersangka mirip dengan bahasa yang digunakan di komunitas ekstrem di dunia maya ini, kata Robert Evans, jurnalis investigatif yang berspesialisasi dalam radikalisasi di dunia maya, kepada BBC.

Baik tersangka maupun Bianca disebut pernah menggunakan 4chan. Para pengguna di forum tersebut pada hari Minggu dua pekan lalu merayakan "satu lagi pembunuhan 4chan" dan membicarakan kematian Bianca dengan istilah-istilah kasar dan misoginis, menyalahkan korban dan bahkan mengedit foto-foto perempuan itu menjadi meme.

Gambar kartun Bianca
@bt.artistry
Orang-orang menggunakan tagar #RIPBianca untuk membagikan kiriman-kiriman positif setelah kematiannya — termasuk berupa karya seni.

Evans mengatakan gambar kekerasan dan bahasa seperti ini "sangat umum" di platform-platform ini. Dia membandingkan cara beberapa pria muda diradikalisasi di situs web ini dengan cara perekrutan kelompok teroris.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/4
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas