Perumahan dan permukiman syariah: Ancaman bagi toleransi dan budaya lokal?
Walaupun ditengarai keberadaan perumahan syariah ini sudah lama, namun ada kekhawatiran ada gejala mengalami kenaikan di tengah bangkitnya segregasi
Para perempuan, baik dewasa maupun anak-anak yang tinggal di pemukiman yang disebut sebagai 'kampung santri" itu mengenakan niqab. Sementara para lelaki bercelana cingkrang dan memelihara jenggot.
Diperkirakan saat ini ada lebih dari seratus orang yang mendiami kampung santri yang terletak di selatan kota Yogyakarta.
Perempuan berusia 28 tahun itu hijrah dari Lampung ke kampung santri sejak 2008, mengikuti kakaknya yang sudah dulu 'mondok' di Pesantren Jamilurrahman As Salafy.
Kepada BBC News Indonesia, dia menjelaskan awal mula ketertarikannya tinggal di kampung santri.
"Tadinya penasaran. Penasaran karena ada orang yang pakai begini [niqab). Kita pikirannya gimana nafasnya, tapi begitu dicoba ya biasa aja ternyata," tuturnya.
"Tadinya kaget juga sih, ya kan kita biasanya terbuka, artinya pakai jilbab aja, nggak pakai tutup muka. Ini kan rapat semuanya. Itu tertariknya di situ," imbuhnya.
Setelah mencoba mengenakan niqab dia pun betah dan memahami sisi positif dari mengenakan niqab.
- Perda syariah di Indonesia: Hasrat menghidupkan ideologi Islam di negeri Pancasila
- Mengapa Perda Syariah bermunculan di Indonesia sejak 1998?
- Diprotes, Pemkot Solo mengecat jalan di depan balai kota yang 'mirip salib'
"Kita kan melindungi [dari] segala macam. Karena wanita kan banyak dikelilingi setan, jadi kita menutup aurat kita semuanya, kita jadi terlindungi dari setan. Sedangkan laki-laki itu kan mudah untuk dibisiki. "
Dia pun menikah dengan sesama santri dan kemudian membina keluarga di kampung santri. Hingga kini, dia sudah memiliki empat anak.
Warga kampung santri yang lain, Ummu Asim yang sudah 17 tahun tinggal di kampung itu pun menampik tudingan bahwa kampung santri yang homogen ini menjadi masyarakat yang eksklusif.
"Kayaknya enggak ada pandangan ekslusif. Wong kita biasa sama bermasyarakat. Nyatanya kita sama pemerintah desa selama ini baik-baik saja," ujar Ummu Asim
"Mungkin yang seperti itu karena belum tahu kita gimana. Belum pernah ber-muhadatsah (bercakap)," imbuh Ummu Hajar.
Di seberang jalan kampung santri, tinggal Sumarni dan keluarganya. Sehari-hari, dia membuka warung di depan rumahnya yang menjajakan jajanan untuk mereka yang disebut warga lokal sebagai "orang-orang pondok", termasuk es kelapa muda.
Dia yang merupakan warga asli dari desa itu mengaku merasa diuntungkan secara ekonomi dengan keberadaan "orang pondok", namun dia akui banyak warga yang merasa tersisih karena banyak dari "orang pondok" membeli lahan atau rumah warga yang mulanya tinggal di desa itu untuk dijadikan pemukiman mereka.
Baca tanpa iklan