Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version
Deutsche Welle

Bukan Denda, FIFA Harusnya Hukum PSSI Tanpa Penonton

FIFA menjatuhkan sanksi denda sebesar Rp 643 juta kepada PSSI, akibat peristiwa kericuhan yang terjadi antara pendukung timnas Indonesia…

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) resmi menjatuhkan hukuman denda untuk PSSI, sebagai buntut akibat kisruh yang terjadi antara pendukung timnas Indonesia dengan Malaysia, saat laga kualifikasi Piala Dunia 2020, September lalu. FIFA mengharuskan PSSI membayar denda sebesar Rp 643 juta. Sederet kasus ricuh antara pendukung klub dan timnas Indonesia dengan lawan bertandingnya, kerap kali terjadi, hingga berujung merenggut nyawa.

Lantas mengapa peristiwa ini seakan tak bisa dicegah hingga menjadi potret buruk sepak bola di Indonesia? Dalam wawancaranya dengan DW Indonesia, pengamat sepak bola, Justinus Lhaksana bahkan menilai denda yang dilayangkan FIFA terlalu lunak bagi PSSI. Lalu, sanksi apa yang seharusnya dilayangkan FIFA kepada PSSI? Simak wawancara berikut.

Baca juga: Piala Dunia 2034, Pengamat: "Indonesia Jangan Memaksa Diri Jadi Tuan Rumah"

Deutsche Welle: Jika menurut Anda denda dari FIFA ke PSSI kecil, seharusnya apa?

Justinus Lhaksana: Kalau denda duit segitu mah sangat amat lunak. Mungkin FIFA mempertimbangkan bahwa Indonesia masih negara berkembang. Harusnya sanksi tanpa penonton. Kenapa? Karena tanpa penonton, PSSI akan terkena dampaknya, akan terasa tidak dapat pemasukkan dari penjualan tiket. Dari situ mungkin PSSI lebih belajar, kalau cuma Rp 643 juta mah, dari tiket pun sudah ketutup. Harus ada sanksi yang membuat “menusuk” istilahnya, berpikir dua kali agar tidak terulang lagi.

Kenapa kerusuhan pendukung timnas dan klub selalu terulang?

Sebenarnya sih sederhana, jangan bandingkan dengan Inggris, satu-satunya negara tidak ada fans, dalam arti supporter bisa lompat ke lapangan. Tapi itu kan nyaris tidak pernah terjadi karena sanksinya sangat berat sampai seumur hidup. Kita bicara negara sepak bola maju lainnya, itu stadionnya di secure sedemikian rupa sehingga tidak ada kemungkinan penonton lompat. Nah di stadion kita, nampaknya faktor ini diabaikan karena seringkali supporter masuk lapangan. Entah keamanannya tidak benar tapi yang jelas ini tanggung jawab PSSI dan klub. Supporter itu tidak boleh bisa masuk lapangan, harusnya kena denda besar. Jadi ada yang salah dengan stadion kita.

Lantas siapa yang paling bertanggung jawab atas kerusuhan supporter?

Panitia pelaksana pertandingan itu kan dibentuk oleh klub tuan rumah, mereka kan punya SOP dari AFC, arahan untuk men-secure. Kalau seandainya tidak secure mereka bisa minta tolong kepolisian atau lain kali diubah sehingga jadi secure. Yang menurut saya aneh, AFC itu beberapa kali ke Indonesia itu meng-approved stadion yang kita miliki. Harusnya itu tidak boleh. Di UEFA tidak akan terjadi itu. Jadi dari AFC salah, stadion salah, PSSI juga salah karena PSSI kan ada pengawasnya, setiap pertandingan kan ada pengawasnya. Kalau stadion tidak benar, yang bertanggung jawab banyak, bukan klub saja. Tapi yang saya lihat kalau sekali terjadi, okay, tapi ini puluhan kali sudah terjadi dan tidak ada perubahan. Ini yang repot.

Indonesia harus berkaca ke klub dan negara mana untuk penyelenggaraan pertandingan yang aman dan berjalan baik?

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Sumber: Deutsche Welle
  Loading comments...
© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas