Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Penerima Hadiah Nobel Jepang Ternyata Baru Tahun 2014 Menggunakan Ponsel

Yoshino menerima Nobel bersama dua orang Amerika yaitu John B. Goodenough dan M. Stanley Whittingham - untuk penelitian mereka tentang baterai

Penerima Hadiah Nobel Jepang Ternyata Baru Tahun 2014 Menggunakan Ponsel
Istimewa
Profesor Akira Yoshino dari Universitas Meiji, penerima hadiah Nobel Kimia dari Jepang, menerima rangkaian bunga hadiah teman-teman dekatnya kemarin (9/10/2019) setelah diumumkan sebagai pemenang Nobel bersama dua orang Amerika. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Penerima hadiah Novel Kimia dari Jepang Akira Yoshino, profesor dari Universitas Meijo Jepang ternyata baru 5 tahun terakhir ini memakai ponsel.

"Benar saya baru lim atahun terakhir ini memakai ponsel karena tak mau diikat kebebasan saya," papar Yoshino kepada pers kemarin (9/10/2019).

Yoshino mengaku baru pakai ponsel belum lama ini karena ingin bebas tak mau dikejar-kejar orang.

"Kalau pakai ponsel ke mana pun gampang diraih, seperti dikejar-kejar orang rasanya," tambahnya.

Yoshino menerima Nobel bersama dua orang Amerika yaitu John B. Goodenough dan M. Stanley Whittingham - untuk penelitian mereka tentang baterai ion-lithium yang dapat diisi ulang.

Baca: Ngebet Ingin Ikut Puteri Indonesia, Rosa Meldianti Dicibir Presenter Ini: Jadi Puteri Ada Standar!

Baca: Selain Novel Bamukmin, Polisi Periksa Pengurus Masjid Al Falah Soal Penganiayaan Ninoy Karundeng

Baca: Jadi Anggota DPR, Penampilan Tommy Kurniawan Berubah Meski Label Artis Masih Melekat, Sederhana?

Goodenough mempelajari bahan baterai di Universitas Oxford di Inggris. Dia menemukan bahwa baterai memiliki tegangan lebih tinggi dan bertahan lebih lama jika senyawa kimia yang disebut lithium cobalt oxide digunakan dalam elektrode positif.

Royal Swedish Academy of Sciences mengatakan Whittingham bekerja mengembangkan metode yang dapat mengarah pada teknologi energi yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil. Penelitiannya juga pada elektrode positif.

Pada tahun 1985, Yoshino menciptakan prototipe baterai lithium-ion menggunakan serat karbon di elektroda (anode) negatif. Yoshino menggunakan Graphite pada anode negatif sehingga secara keseluruhan batere Lithium Ion menjadi sangat kuat, stabil dan aman.

"Saya sama sekali tak menyangka bakal dapat Nobel. Lalu segera saya telpon isteri yang kaget bukan main setengah tak percaya," ungkap Yoshino lagi.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Hendra Gunawan
  Loading comments...
© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas