Owa Jawa: Pernah hilang dari Puntang, kini kembali pulang
Gunung Puntang dulu merupakan habitat alami Owa Jawa, namun mereka hilang karena maraknya perburuan. Kini mereka diperkenalkan kembali lewat
Namun, itu bukanlah proses yang mudah. Butuh waktu belasan tahun merehabilitasi owa yang sebelumnya menjadi peliharaan. Seperti yang terjadi pada Cuplis.
Cuplis diserahkan ke JGC pada tahun 2008.
"Cuplis ada yang nyerahin ke kantor Taman Nasional Halimun. Kondisinya kurus, ada rantai di pinggangnya. Dia tidak bisa bergerak bebas. Cuma bisa bergerak ke kiri dan kanan. Dia juga ditaruh di kandang kecil. Di luar kandang, dia terikat rantai. Jadi saat datang ke Java Gibbon Center, ada proses rehabilitasi yang cukup panjang," ujar Mulia, yang akrab disapa Mul.
- Leuser, hutan terakhir dan terbaik di Aceh yang terancam hilang
- Kelapa sawit: Perjuangan seorang perempuan Indonesia selamatkan 'tempat terakhir di Bumi'
Bukan hanya sekedar mengajarkan owa berlaku selayaknya satwa liar, namun proses rehabilitasi juga termasuk mencarikan pasangan.
Seperti manusia, mereka hidup berkeluarga dengan satu atau dua anak. Namun, karena owa adalah hewan monogami, pencarian pasangan bisa jadi urusan panjang.
Di pusat rehabilitasi, Cuplis beberapa kali dijodohkan dengan owa jantan, namun terus gagal. Hingga akhirnya dia bertemu Jowi, yang diserahkan ke JGC pada tahun 2014. Dengan kata lain, butuh enam tahun bagi Cuplis untuk menemukan pasangan.
"Cuplis itu sudah beberapa kali dijodohkan sama jantan, tapi nggak cocok. Akhirnya dia ketemu Jowi dan alhamdulillah cocok," sebut Mul.
Dia menambahkan, tingkah polah owa saat 'berpacaran' juga mirip dengan manusia.
"Kalau dia cocok dia bisa colak-colek tuh. Nanti dia bisa grooming, bisa cium-ciuman, kadang-kadang lucu lah, kayak manusia. Setelah mereka cocok, kita pindahkan ke kandang jodoh dan akhirnya mereka kawin dan punya anak," kata Mul.
Sayang, anak pertama mereka mati.
Cuplis tidak punya pengalaman menjadi ibu karena jadi peliharaan seumur hidupnya.
"Awal-awal mendapatkan Maral itu perjuangan buat Cuplis. Dia sempat gagal di anak pertama. Dia belum bisa mengasuh anak karena tidak punya pengalaman. Dia tidak bisa melihat contoh dari induknya dulu. Awal-awal, dia malah mengasuh Maral di betis bukan digendong di pinggang," jelas Mul, yang sudah merawat Cuplis sejak pertama kali datang ke JGC.
Mul mengatakan, dia harus mengajarkan Cuplis cara mengasuh bayinya. Namun, bukan hanya Mul yang berperan besar, Jowi, sang owa jantan, turut andil dalam mengasuh bayi mereka.
"Pasangan owa itu akan saling menjaga satu sama lain. Apalagi ketika mereka sudah punya anak. Owa jantan juga ikut berperan dalam menjaga anaknya, dia sangat protektif terhadap keluarganya. Ikatan mereka sangat kuat," papar drh. Pristi.
Soft Release