Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
BBC

Para peretas 'legal' yang mengantongi penghasilan miliaran rupiah

Sejumlah peretas mendapatkan penghasilan lebih dari US$350.000 atau Rp4,9 miliar karena menemukan kelemahan dalam perangkat lunak sebelum diketahui

Tribun X Baca tanpa iklan

Suatu hari di pertengahan tahun 2016, Pranav Hivarekar, seorang peretas yang bekerja penuh, berusaha menemukan cacat dari fitur terbaru Facebook.

Raksasa media sosial itu mengumumkan, hanya delapan jam sebelumnya, akan mengizinkan para pemakai mengomentari posting yang menggunakan video.

Pranav mulai meretas sistem untuk mengetahui kelemahannya, kesalahan apapun yang dapat para penjahat gunakan untuk membobol jaringan perusahaan dan mencuri data.

Dan dia menemukan kode cacat yang dapat digunakan untuk menghapus semua video dari Facebook.

"Saya menemukan saya dapat mengeksploitasi kode dan bahkan menghapus video yang diunggah Mark Zuckerberg," kata Pranav, yang disebut ethical hacker atau peretas beretika dari kota Pune, India kepada BBC.

Dia melaporkan kesalahan atau bug ini kepada Facebook melalui program 'bug bounty' atau hadiah bug.

Dua minggu kemudian dia diberikan bayaran ratusan ribu dolar.

Rekomendasi Untuk Anda

Pemburu kesalahan

Sejumlah peretas beretika sekarang berpenghasilan besar dan bisnis ini terus tumbuh.

Pemburu bug biasanya masih muda - lebih dua pertiga peretas berumur 18-29 tahun.

Banyak perusahaan besar yang memberikan bayaran tinggi kepada mereka untuk untuk menemukan cacat pada kode internet sebelum diketahui kriminal internet.

Menemukan bug yang tidak pernah diketahui sebelumnya sangatlah jarang dan penemunya dapat diberikan hadiah ratusan ribu dolar atau miliaran rupiah.

Ini adalah insentif sangat besar bagi para peretas beretika elite atau "white hat".

"Hadiah adalah satu-satunya pemasukan saya," kata Shivam Vashisht, peretas beretika dari India bagian utara yang berpenghasilan US$125.000 atau Rp1,7 miliar lebih tahun lalu.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/4
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas