Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Serangan Covid-19 di AS Pada Musim Dingin Mendatang Diperkirakan akan Lebih Parah

AS mengalami epidemi flu dan epidemi virus corona secara bersamaan. Kombinasi tersebut akan memberikan tekanan lebih besar terhadap sistem kesehatan.

Serangan Covid-19 di AS Pada Musim Dingin Mendatang Diperkirakan akan Lebih Parah
The Telegraph
Seorang Paramedis Ini Hadapi Demonstran Anti-Lockdown di Colorado, Amerika Serikat 

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) bakal menghadapi gelombang kedua wabah Covid-19 pada musim dingin mendatang. Dalam gelombang kedua itu kemungkinan akan lebih parah dibandingkan gelombang pertama sebab muncul di awal musim influenza.

Hingga Rabu (23/4/2020), korban meninggal di AS akibat Covid-19 mencapai 45 ribu orang.

"Ada kemungkinan serangan virus di AS pada musim dingin mendatang akan lebih sulit ketimbang yang kita lalui sekarang," kata Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, kepada Washington Post, Selasa (21/4/2020) waktu setempat atau Rabu WIB.

Ketika wabah saat ini terus mereda, seperti yang ditunjukkan melalui penurunan tingkat rawat inap baru-baru ini dan indikator lainnya, otoritas perlu mengantisipasi potensi gelombang kedua dalam beberapa bulan ke depan.

"AS akan mengalami epidemi flu dan epidemi virus corona secara bersamaan," katanya.

Menurutnya, kombinasi tersebut akan memberikan tekanan lebih besar terhadap sistem kesehatan negara dibandingkan wabah sebelumnya.

Covid-19 muncul di China tengah pada Desember lalu. Infeksi pertama AS didiagnosis pada 20 Januari di Washington, dekat Seatle.

Hingga saat ini hampir 810.000 orang di Amerika Serikat positif Covid-19.

Baca: 768 Penumpang Datang ke Jakarta Melalui Terminal Kampung Rambutan, yang Mudik 400 Orang

Redfield dan otoritas kesehatan lainnya memuji kebijakan tetap berada di rumah dan penutupan bisnis serta sekolah di negara tersebut demi memperlambat penyebaran infeksi.

Namun, pembatasan itu juga menghambat perekonomian AS serta mengakibatkan 22 juta orang kehilangan pekerjaan dalam empat pekan terakhir.

Halaman
123
Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Dewi Agustina
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas