Presiden Donald Trump Dijuluki Si 'Raja Utang'
Julukan itu ditujukan kepada Trump karena pemerintahan yang dipimpinannya melakukan pinjaman atau utang secara agresif
Penulis:
Srihandriatmo Malau
Editor:
Imanuel Nicolas Manafe
Jika tidak, maka tidak akan dapat membayar utang setelah krisis pandemi Covid-19 berakhir nanti.
Bahkan pengawas defisit mendesak Negeri Paman Sam itu untuk tetap meminjam.
Tentu saja, akan ada konsekuensi jangka panjang atas menggunungnya utang tersebut.
Karena tingkat bunga akan lebih tinggi, begitu juga inflasi akan tinggi dan kemungkinan pajak akan lebih tinggi.
Tapi untuk saat ini, fokusnya adalah menjaga bisnis di Amerika tetap bertahan.
Pada Maret lalu, Kongres meloloskan paket stimulus sebesar2,3 triliun AS, terbesar dalam sejarah.
Kantor Anggaran Kongres AS bulan lalu memperkirakan defisit anggaran akan mencapai 3,7 triliun dollar AS tahun ini, atau naik dari 1 triliun AS pada 2019 lalu. Sementara utang nasional melonjak di atas 100 persen dari PDB.
Kemungkinan besar masih akan ada paket stimulus laini akan diterapkan pemerintah AS, jumlahnya sekitar 2 triliun dolas AS, pada akhir tahun ini.
Paket stimulus ini bertujuan untuk membantu pemerintah negara bagian dan pemerintah daerah yang babak belur oleh krisis.
Semua ini akan membuat utang AS semakin menggunung.
Baca: Kasus Positif Covid-19 Baru di New York Mayoritas Warga yang Tinggal di Rumah, Gubernur Syok
Tapi pemerintah AS meyakini tidak ada pilihan lain yang layak untuk mencegah krisis terjadi.
Sebelumnya diberitakan paket stimulus teranyar yang dirilis pemerintah AS untuk penanganan dan penyelamatan ekonomi dari virus corona setara sekira 14 persen dari produk domestik bruto (PDB) AS. (CNN/BBC)
Baca tanpa iklan