Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Takut Terinfeksi Covid-19, Warga Jepang Enggan ke Klinik dan Rumah Sakit

Jumlah pasien di klinik penyakit dalam di bagian barat Perfektur Hiroshima juga telah berkurang.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Takut Terinfeksi Covid-19, Warga Jepang Enggan ke Klinik dan Rumah Sakit
Istimewa
Sebuah klinik di Hiroshima Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Penyebaran virus corona di Jepang dengan jumlah korban lebih dari 15.800 orang, justru membuat banyak warga kini takut ke klinik atau ke rumah sakit.

"Saya takut ke rumah sakit, nanti malah terinfeksi corona lagi," ungkap Nakayama kepada Tribunnews.com, Senin (11/5/2020).

Makayama mengaku merasa tidak enak badan.

Di sebuah klinik THT di Tokyo yang biasanya sangat ramai, dari pengamatan Tribunnews.com saat ini hanya sedikit pasien.

"Kurang tahu juga mengapa sedikit, mungkin pasien justru menjaga diri di rumah, tak mau ke luar agar tak terinfeksi Corona ada benarnya. Namun ini memang kenyataan yang ada, banyak pasien saya jadi berkurang belakangan ini sejak pandemi corona," kata Dr Ono.

Padahal sebelum pandemi corona, Dr Ono mengaku pasien sampai antre untuk berobat flu dan kaitan THT (Telinga Hidung Tenggorokan).

Rekomendasi Untuk Anda

Di Klinik pengobatan internis di Naka-ku, Hiroshima seorang pasien 70 tahun yang datang ke klinik itu. Dia mengatakan seolah tak ada perawat di ruang pemeriksaan.

Jaga jarak dilakukan antara pasien dengan tenaga medis sejak pandemi Corona, sehingga ada pula yang hanya lewat telepon saja walaupun ada di lokasi klinik.

"Saya tahu bahwa infeksi itu menakutkan, tetapi jika saya biarkan saja, penyakit kronis saya dapat memburuk. Itu sebabnya saya ke klinik ini," kata lelaki usia 70 tahun itu.

Jumlah pasien di klinik penyakit dalam di bagian barat Perfektur Hiroshima juga telah berkurang.

Baca: Pasien Sembuh Virus Corona Naik Jadi 2.881 orang, Paling Banyak dari Jakarta

"Jumlah pasien yang menerima kunjungan rutin berkurang sekali. Jika situasi ini berlanjut, manajemen tidak akan layak, bisa tutup mungkin klinik ini," ungkap seorang tenaga medis.

Kliniknya dalam posisi untuk mempekerjakan 7 staf. Namun, jumlah pasien pada bulan April berkurang sekitar 70 persen dari jumlah biasanya.

Di sisi lain, biaya tindakan pengendalian infeksi akan meningkat. Pihaknya memperkenalkan sistem konferensi video untuk orang-orang yang ingin menerima perawatan medis online di rumah.

"Saya juga membeli pelindung wajah. Biaya medis untuk bulan April akan dibayarkan oleh pemerintah pada bulan Juni, tetapi direktur khawatir bahwa penurunan pendapatan sangat besar saat ini," ujarnya.

Bukan hanya soal pendapatan, setiap orang bekerja dengan kesadaran akan risiko terinfeksi.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas