Wabah dan Kekeringan: Bencana Berganda Melanda Warga Miskin India
Gelombang panas yang melanda India mengancam warga miskin yang kini juga harus menghadapi pandemi Covid-19 di tengah bencana kekeringan.…
Gelombang panas belakangan menjadi fenomena lumrah di India. Pekan ini suhu udara setinggi 50 derajat Celsius terekam di barat negara bagian Rajasthan. Separuh wilayah ibu kota New Delhi mencatat suhu bulan Mei paling tinggi sejak 20 tahun terakhir.
Menurut data pemerintah, gelombang panas membunuh sedikitnya 3.500 penduduk sejak tahun 2015. Angka itu belum ditambah kasus bunuh diri oleh petani yang mengalami gagal panen akibat bencana kekeringan.
Meski demikian, hanya tujuh persen rumah tangga di India yang memiliki pendingin ruangan.
Tarun Gopalakrishnan dari Pusat Sains dan Lingkungan meyakini pemerintah India harus bersiap memitigasi dampak periode panjang gelombang panas di masa depan. "Kalau kita lihat rata-rata data musiman, kita terkadang melewatkan fakta bahwa cuaca ekstrem semakin rutin, dan menyebabkan gangguan sosial yang jga makin besar,” kata dia.
Nestapa berkepanjangan
Saat ini pemerintah di New Delhi mulai melonggarkan aturan lockdown. Namun pembatasan sosial turut menambah nestapa warga yang dilanda gelombang panas. Di Delhi yang berpenduduk 20 juta misalnya, kebutuhan air mencapai 760 juta liter per hari.
Antrian air di ibu kota dilaporkan semakin parah sejak pandemi Covid-19 melanda. Kini warga miskin harus antri menunggu pembagian air berjam-jam sambil membawa ember dan botol plastik. Pembatasan sosial adalah kekhawatiran terakhir mereka, ketika kedatangan truk tangki dari pemerintah saja tidak bisa dipastikan.
"Karena masalah air, kami tidak bisa menaati aturan pembatasan jarak sosial. Orang-orang berdempetan ketika berebutan untuk mengisi ember mereka,” pungkas Gopalakrishnan.
rzn/as (AP)

Baca tanpa iklan