Mahasiswa Asing di AS Terancam Dideportasi Jika Universitas Mereka Menerapkan Mata Kuliah Online
Mahasiswa internasional yang tengah menempuh pendidikan di Amerika Serikat kini terancam harus pergi atau berisiko deportasi
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
bunga pradipta p
TRIBUNNEWS.COM - Mahasiswa internasional yang tengah menempuh pendidikan di Amerika Serikat kini terancam harus pergi atau berisiko deportasi jika universitas mereka mengganti metode perkuliahan menjadi perkuliahan online.
Keputusan tersebut diumumkan oleh bagian Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) Senin (6/7/2020), CNN melaporkan.
Langkah itu dapat mempengaruhi ribuan mahasiswa asing yang kuliah di Amerika Serikat, termasuk yang berpartisipasi dalam program pelatihan, serta studi non-akademik atau kejuruan.
Universitas-universitas di seluruh negeri mulai membuat keputusan untuk beralih ke kursus online sebagai akibat dari pandemi virus corona.
Di Harvard, misalnya, semua instruksi kursus akan dikirim secara online, termasuk untuk siswa yang tinggal di kampus.
Untuk siswa internasional, hal itu mendesak mereka untuk meninggalkan AS.
Baca: Pemanfaatan Teknologi untuk Pembelajaran Harus Diteruskan Meski Pandemi Covid-19 Berakhir
Baca: Mendikbud Akan Permanenkan Sistem Pembelajaran Jarak Jauh, Ini Kata Politikus PPP
"Ada begitu banyak ketidakpastian. Ini sangat menyebalkan," kata Valeria Mendiola (26), seorang mahasiswa pascasarjana di Sekolah Pemerintahan Kennedy di Harvard.
"Jika saya harus kembali ke Meksiko, saya bisa saja kembali, tetapi banyak siswa internasional yang tidak bisa."
Dalam rilis berita yang dipublikasikan Senin, ICE mengatakan mahasiswa yang memiliki visa tertentu, mungkin tidak bisa mengambil beban kursus online penuh dan tetap di Amerika Serikat.
ICE menambahkan, "Departemen Luar Negeri AS tidak akan mengeluarkan visa untuk siswa yang terdaftar di sekolah dan / atau program yang sepenuhnya online untuk semester musim gugur."
"Pabean AS dan Perlindungan Perbatasan tidak akan mengizinkan siswa itu untuk memasuki Amerika Serikat."
ICE menyarankan agar mahasiswa yang saat ini terdaftar di AS mempertimbangkan langkah-langkah lain, seperti pindah ke kampus yang masih menerapkan tatap muka.
Ada pengecualian untuk universitas yang menggunakan model hybrid, seperti campuran kelas online dan kelas.
Brad Farnsworth, wakil presiden American Council on Education, mengatakan pengumuman itu mengejutkannya dan banyak pihak lainnya.
Baca: Lewat Danacita, Mahasiswa Bisa Mencicil Biaya Kuliah di Kampus President University
"Kami pikir ini akan memicu kebingungan dan ketidakpastian," kata Farnsworth, yang organisasinya mewakili sekitar 1.800 perguruan tinggi dan universitas.