Kritikus Presiden Putin Keracunan Hingga Kritis, Oposisi Menduga Perbuatan Pemerintah Rusia
Politisi oposisi menduga insiden keracunan yang dialami kritikus Presiden Vladimir Putin, Alexei Navalny merupakan perbuatan rezim.
Penulis:
Ika Nur Cahyani
Editor:
Tiara Shelavie
TRIBUNNEWS.COM - Politisi oposisi menduga insiden keracunan yang dialami kritikus Presiden Vladimir Putin, Alexei Navalny merupakan perbuatan rezim.
Menurut laporan Reuters, serangan racun itu kemungkinan dilakukan pasukan keamanan terkait dengan Kremlin.
Politisi oposisi sekaligus wakil presiden Free Russia Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, Vladimir Kara-Murza menilai serangan itu dilakukan karena kritikan-kritikan yang dilakukan Navalny kepada presiden.
Vladimir Kara-Murza ini pernah dua kali selamat dari dugaan serangan racun pada 2015 dan 2017.
Navalny merupakan sosok kritikus Putin yang namanya cukup besar.
Baca: Meksiko akan Dapatkan 2.000 Dosis Vaksin Sputnik Buatan Rusia untuk Uji Klinis
Baca: Pemimpin Oposisi Rusia Alexei Navalny Diduga Diracun, Sosoknya Dikenal sebagai Kritikus Putin
Setelah ditemukan keracunan, Navalny langsung dilarikan ke rumah sakit Siberia pada Kamis (20/8/2020).
Saat ini dia dalam kondisi kritis.
Navalny keracunan setelah minum teh yang dipercaya dicampur dengan racun.
Jubir pemerintah, Dmitry Peskov mengatakan bahwa kasus keracunan itu harus diperiksa melalui laboratorium.
Dia juga memastikan dokter melakukan segala cara untuk menyelamatkannya.
Dmitry Peskov berharap oposisi Putin itu bisa segera pulih.
Kremlin atau pemerintah Rusia membantah tuduhan membunuh musuh atau oposisi pemerintahan.
Namun Kara-Murza yakin bahwa dugaan keracunan yang dialami Navalny berkaitan dengan isu politik.
Baca: Pemimpin Oposisi Rusia Alexei Navalny Diduga Diracun, Sosoknya Dikenal sebagai Kritikus Putin
Diketahui Navalny baru-baru ini memberikan dukungan kepada politisi oposisi yang mencalonkan diri dalam pemilihan daerah bulan depan.
Selain itu diduga insiden ini juga disebabkan protes yang tengah terjadi di Belarus soal sengketa pemilihan.
Baca tanpa iklan