AS Berencana Tutup Kedutaan di Baghdad dan Tarik Diplomatnya, Timbulkan Ketakutan akan Perang
Pada Minggu (27/9/2020), Washington telah memulai persiapan untuk menarik staf diplomatik, kata narasumber tersebut dan dua diplomat Barat.
Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Garudea Prabawati

TRIBUNNEWS.COM - Dua pejabat Irak dan dua diplomat AS mengatakan, Gedung Putih bersiap menarik diplomat dari Irak setelah memperingatkan Baghdad bahwa mereka dapat menutup kedutaannya.
Warga Irak khawatir langkah ini dapat mengubah negara mereka menjadi zona pertempuran
Mengutip Al Jazeera, Amerika juga berusaha mengurangi kehadiran diplomatiknya dengan menarik sekira 5.000 pasukan tentara yang dinilai sebagai konfrontasi dengan Iran.
Pada Minggu (27/9/2020), Washington telah memulai persiapan untuk menarik staf diplomatik, kata narasumber tersebut dan dua diplomat Barat.
Baca: Roket Hantam Zona Hijau Baghdad untuk Kelima Kalinya dalam 10 Hari
Baca: TERBARU Roket Hantam Kedutaan Besar AS di Zona Hijau Baghdad

Kekhawatiran di antara warga Irak yakni, penarikan diplomat akan segera diikuti oleh tindakan militer terhadap pasukan yang disalahkan Washington atas serangan.
Pemimpin populis Irak Muqtada al-Sadr, yang memimpin jutaan warga Irak, mengeluarkan pernyataan pekan lalu berisi permohonan agar kelompok-kelompok itu menghindari eskalasi yang akan mengubah Irak menjadi medan pertempuran.
Salah satu diplomat Barat mengatakan pemerintah AS tidak "ingin dibatasi dalam pilihan mereka" untuk melemahkan Iran atau milisi pro-Iran di Irak.
Awal bulan ini, militer AS mengatakan akan mengurangi kehadirannya di Irak menjadi 3.000 tentara dari 5.200 tentara.
Pentagon mengatakan pada Senin (28/9/2020), pihaknya berkomitmen untuk mendukung "keamanan, stabilitas, dan kemakmuran" jangka panjang Irak dan operasi militer AS terhadap kelompok bersenjata ISIL (ISIS) terus berlanjut.
Baca: Roket Serang Zona Hijau Baghdad, Serangan Ke-4 dalam Satu Minggu
Baca: Rentetan Roket Katyusha Serang Pangkalan Militer Dekat Baghdad, 3 Personel Koalisi Pimpinan AS Tewas
Resiko Perang
Lebih jauh, resiko perang semakin besar setelah Januari tahun ini, Washington membunuh Komandan Militer Tertinggi Iran, Qassem Soleimani.
Qassem Soleinmani tewas dalam serangan pesawat tak berawak di bandara Baghdad.

Kemudian, Iran menanggapi dengan rudal yang ditembakkan ke pangkalan AS di Irak.
Roket secara teratur terbang melintasi Tigris menuju kompleks diplomatik AS yang dijaga ketat, dibangun untuk menjadi kedutaan besar AS terbesar di dunia di apa yang disebut "Zona Hijau" Baghdad tengah selama pendudukan AS setelah invasi tahun 2003.