Tribun

Virus Corona

Studi WHO : Remdesivir Tidak Punya Efek Substansial pada Peluang Pasien Bertahan Hidup

Obat ini adalah satu obat yang baru-baru ini digunakan untuk mengobati infeksi virus corona pada Presiden AS Donald Trump.

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Theresia Felisiani
zoom-in Studi WHO : Remdesivir Tidak Punya Efek Substansial pada Peluang Pasien Bertahan Hidup
Freepik
Update Virus Corona Global 8 Mei 2020: Total 3,9 Juta Orang Terinfeksi, 1,3 Juta Orang Telah Sembuh 

TRIBUNNEWS.COM, JENEWA - Uji klinis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan remdesivir tidak punya efek substansial pada peluang pasien Covid-19 untuk bertahan hidup.

Demikian uji klinis WHO terhadap obat remdesivir yang diproduksi Gilead Sciences Inc, seperti Financial Times melaporkan pada Kamis (15/10/2020).

Remdesivir menjadi obat antivirus, yang pertama digunakan sebagai pengobatan Covid-19.

Obat ini adalah satu obat yang baru-baru ini digunakan untuk mengobati infeksi virus corona pada Presiden AS Donald Trump.

Baca juga: Akui Tak Lakukan Kontak Fisik & Terus di Rumah, Ini Kronologi Valentino Rossi Terpapar Covid-19

Laporan Financial Times mengutip hasil uji coba Solidaritas WHO, yang mengevaluasi efek dari empat rejimen obat potensial, termasuk remdesivir, hydroxychloroquine, obat kombinasi anti-HIV lopinavir/ritonavir dan interferon.

Uji klinis dilakukan kepada 11.266 pasien rawat inap.

Hydroxychloroquine dan lopinavir/ritonavir dihentikan pada Juni lalu, setelah terbukti tidak efektif.

"Tetapi uji coba lainnya terhadap dua obat itu berlanjut di lebih dari 500 rumah sakit dan 30 negara," kata kepala ilmuwan WHO Soumya Swaminathan pada sebuah acara pada Rabu (14/10/2020).

Studi ini menemukan tidak ada obat yang "secara substansial mempengaruhi tingkat kematian" atau mengurangi kebutuhan untuk ventilasi pasien, menurut Financial Times, yang telah melihat salinan penelitian.

Baca juga: WHO: Orang Muda yang Sehat tak Akan Dapat Vaksin Covid-19 Hingga 2022

Ketika diklarifikasi, WHO tidak berkomentar terkait laporan Financial Times tersebut.

WHO hanya mengatakan hasil studi mengenaI itu masih belum dipublikasikan.

Awal bulan ini, Gilead mengatakan remdesivir mampu memangkas waktu pemulihan Covid-19 selama lima hari, dibandingkan dengan pasien plasebo dalam penelitian studi terhadap 1.062 pasien.

Hasilnya dipublikasikan di New England Journal of Medicine.(Reuters)

Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas