Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Drone AS yang Bunuh Jenderal Qassem Soleimani Diberi Izin Terbang oleh Otoritas Irak

Jenderal Qassem Soleimani dari Iran, terbunuh di Bandara Internasional Baghdad, Irak. Pembunuhan terjadi atas perintah Presiden AS Donald Trump.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Setya Krisna Sumarga
zoom-in Drone AS yang Bunuh Jenderal Qassem Soleimani Diberi Izin Terbang oleh Otoritas Irak
Getty Images
Mayor Jenderal Qassem Soleimani dan Donald Trump 

TRIBUNNEWS.COM, BEIRUT - Mantan Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi, mengungkapkan pesawat nirawak AS yang membunuh Mayjen Qassem Soleimani, mendapatkan izin terbang dari otoritas Irak.

Serangan drone di komplek Bandara Internasional Baghdad, 3 Januari 2020 itu juga menewaskan Wakil Komandan Unit Mobilisasi Populer Irak (PMU), Abu Mahdi al-Mohandis.

Pengakuan Haider al-Abadi dikutip Al Masdar News Network yang disiarkan dari Beirut, Lebanon, Sabtu (12/12/2020).

Abadi mengatakan pesawat AS itu diizinkan terbang di wilayah bandara sebelum menggempur mobil yang membawa Soleimani dan Mohandis.

Baca juga: Siaga Tinggi di Irak Jelang Peringatan Setahun Pembunuhan Qassem Soleimani

Baca juga: Iran Keluarkan Surat Perintah Penangkapan Donald Trump atas Pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani

Baca juga: Dubes Iran Ungkap Misi Terakhir Jenderal Qassem Soleimani Sebelum Dibunuh Militer Amerika

Al-Abadi mengaitkan masalah ini dengan perselisihan politik internal Irak. Saat peristiwa terjadi, tengah berlangsung tarik menarik antara kekuatan yang pro-AS dan yang menginginkan poros kerjasama Irak-China dan Iran.

"Pengorbanan di lapanganlah yang mencapai kemenangan, dan kemenangan tidak dapat dicapai tanpa persatuan rakyat Irak," kata Abadi retoris.

"Saya memberi tahu Iran saya akan meminta mereka dan Amerika untuk mundur jika pertempuran berlanjut, dan saya menolak partisipasi angkatan udara Emirat dan Iran dalam pertempuran melawan ISIS," imbuhnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Belum ada komentar lebih lanjut dari pemerintah Irak yang berkuasa saat ini. Pembunuhan atas Qassem Soleimani di Baghdad dilakukan atas perintah Presiden AS Donald Trump. Operasi itu logikanya tidak akan terjadi jika tidak sepengetahuan otoritas Irak.

Perkembangan terakhir kasus pembunuhan Qassem Soleimani, pemimpin Brigade Al Quds IRGC, Asisten Presiden Dewan Yudisial Iran untuk Urusan Internasional, Ali Bagheri Keny, meminta kerjasama Jerman.

Pejabat Iran mengatakan hal itu selama pertemuan dengan Dubes Jerman untuk Teheran, Hans Udo Muzel. Iran menerima laporan AS menggunakan pangkalan mereka di Jerman untuk persiapan pembunuhan Soleimani.

Bagheri Keny meminta Berlin untuk bekerja sama dengan pengadilan Iran untuk melengkapi file dan memperjelas sikap mendua mereka tentang peristiwa ini, serta dugaan keterlibatan Jerman dalam keseluruhan operasi ini.

Sebagai balasan atas pembunuhan Qassem Soleimani, Korps Pengawal Revolusi Islam Iran meluncurkan beberapa rudal ke pangkalan militer AS di Irak. Serangan presisi itu menghancurkan bangunan dan fasilitas militer lainnya.

Peristiwa ini semakin meningkatkan tensi ketegangan antara AS dan Iran. Kedua negara saling mengancam di kawasan Teluk Persia.

Terbaru, pihak asing membunuh ilmuwan fisika Iran, Mohsen Fakhrizadeh pada 27 November 2020 di dekat Teheran.

Teheran menuduh serangan pembunuhan itu didalangi dan dilakukan agen-agen serta komprador Mossad di Iran.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas