Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Kudeta Militer di Myanmar, Apa yang Kita Ketahui Sejauh Ini?

Berikut fakta-fakta yang diketahui sejauh ini tentang krisis di Myanmar

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Gigih
zoom-in Kudeta Militer di Myanmar, Apa yang Kita Ketahui Sejauh Ini?
Lillian SUWANRUMPHA / AFP
Para migran Myanmar memegang potret Aung San Suu Kyi saat mereka mengambil bagian dalam demonstrasi di luar kedutaan Myanmar di Bangkok, Thailand pada 1 Februari 2021, setelah militer Myanmar menahan pemimpin de facto negara itu Aung San Suu Kyi dan presiden negara itu dalam sebuah kudeta. 

Pada Senin malam, militer mencopot 24 menteri dan menunjuk 11 orang pengganti untuk mengawasi portofolio seperti keuangan, pertahanan, urusan luar negeri, dan dalam negeri.

Aung San Suu Kyi adalah tokoh yang sangat populer di Myanmar karena sikap penentangannya terhadap militer, yang telah merebut kekuasaan dalam kudeta tahun 1962 dan membasmi semua perbedaan pendapat selama beberapa dekade.

Sebagai peraih Hadiah Nobel Perdamaian, wanita berusia 75 tahun itu menghabiskan sebagian besar dari dua dekade di bawah tahanan rumah selama pemerintahan militer sebelumnya.

Meski begitu, reputasinya di mata internasional rusak parah setelah dia gagal menghentikan tindakan keras dan pengusiran ratusan ribu orang Rohingya pada 2017.

Aung San Suu Kyi
Aung San Suu Kyi (DNA India/AFP)

Bagaimana Reaksi Komunitas Internasional?

PBB memimpin kecaman atas kudeta tersebut dan menyerukan pembebasan tahanan dan pemulihan demokrasi yang kemudian diikuti kecaman oleh Australia, Inggris, Uni Eropa, India, Jepang dan Amerika Serikat.

"Militer harus segera membatalkan tindakan ini," kata Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken.

Rekomendasi Untuk Anda

China, yang memiliki pengaruh besar di negara tetangga Myanmar, menyerukan semua pihak untuk menghormati konstitusi dan menegakkan stabilitas dalam sebuah pernyataan yang menyinggung peristiwa di negara itu, tanpa secara langsung mengutuk tindakan tersebut.

Bangladesh, yang menampung sekitar satu juta pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar, menyerukan "perdamaian dan stabilitas" dan berharap adanya proses untuk memulangkan para pengungsi dapat dilanjutkan.

Pengungsi Rohingya di Bangladesh juga mengutuk pengambilalihan tersebut.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Halaman 2/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas