Warga Uighur Gelar Unjuk Rasa di Turki Saat Menteri Luar Negeri China Berkunjung
Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi mengadakan pembicaraan dengan Menlu Turki Mevlut Cavusoglu di Ankara, Kamis (25/3/2021).
Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Willem Jonata
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Srihandriatmo Malau
TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi mengadakan pembicaraan dengan Menlu Turki Mevlut Cavusoglu di Ankara, Kamis (25/3/2021).
Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan isu regional dan internasional serta hubungan bilateral dibahas selama kunjungan Wang.
Menlu China juga dijadwalkan bertemu Presiden Turki Tayyip Erdogan.
Sementara sekitar 300 warga Uighur berkumpul di Istanbul sebagai bentuk protes.
Mereka melantunkan "Diktator China" dan "Hentikan Genosida Uighur, Tutup Kamp-kamp".
Beberapa demonstran melambaikan bendera biru-putih dari gerakan kemerdekaan Turkestan Timur, nama yang mengacu pada Xinjiang.
Baca juga: Bareskrim Polri Tangkap Warga Irak Terlibat Kasus Perdagangan Manusia ke Turki
Baca juga: AS dan Sekutunya Umumkan Sanksi untuk Pejabat China atas Pelanggaran HAM Serius terhadap Uighur
Mereka rutin menjalankan aksi protes di ibu kota Ankara dan kota terbesar Istanbul untuk memprotes perlakuan China terhadap warga Uighur.
Para ahli PBB memperkirakan setidaknya satu juta warga Uighur dan lainnya ditahan di pusat-pusat penahanan di barat laut China Xinjiang.
Amerika Serikat mengatakan pada Januari, China telah melakukan "genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan" dengan menekan warga Uighur.
China menyangkal tuduhan pelanggaran di Xinjiang.
Baca juga: Demo Kedubes China, Mahasiswa: Stop Genosida Etnis Uighur
Warga Uighur yang tinggal di Turki mengkhatirkan nasibnya, usai Beijing menyetujui perjanjian ekstradisi antara kedua negara pada bulan Desember dan dengan kesepakatan menunggu pengesahan oleh parlemen Ankara.
Karena itu pula, para aktivis di antara sekitar 40.000 warga Uighur yang tinggal di Turki telah meningkatkan upaya mereka.
Kekhawatiran warga Uighur telah dipicu oleh ketergantungan Ankara pada China untuk vaksin Covid-19 sampai sekarang, setelah menerima 15 juta dosis Sinovac Biotech dan memesan puluhan juta lebih.
Minggu ini, Turki menerima 1,4 juta dosis vaksin yang dikembangkan oleh biontech Jerman, batch pertama vaksin non-China.
Namun Cavusoglu telah membantah bahwa perjanjian ekstradisi antara kedua negara akan menyebabkan warga Uighur dikirim kembali ke China. Ia menggambarkannya sebagai kesepakatan rutin yang mirip dengan yang dilakukan Turki dengan negara lain.
Seorang juru bicara kedutaan Besar China mengatakan bulan lalu bahwa warga Uighur yang telah mengadakan aksi protes rutin di dekat tempat diplomatik China di Turki dalam beberapa bulan terakhir berusaha menipu rakyat Turki dan merusak hubungan kedua negara. (Reuters)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.