Prancis Masuki Lockdown Nasional Ketiga di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19
Prancis memasuki lockdown nasional ketiganya saat memerangi lonjakan kasus Covid-19 yang mengancam membanjiri rumah sakit negara itu.
Penulis:
Andari Wulan Nugrahani
Editor:
Sri Juliati
TRIBUNNEWS.COM - Prancis memasuki lockdown nasional ketiganya untuk memerangi lonjakan kasus Covid-19 yang mengancam membanjiri rumah sakit negara itu.
Semua sekolah dan toko non-esensial akan tutup selama empat minggu.
Jam malam akan diberlakukan dari pukul 19.00 hingga 06.00 waktu setempat.
Melansir BBC, pada Jumat (2/4/2021), jumlah pasien Covid-19 yang sakit parah di unit perawatan intensif (ICU) meningkat 145.
Ini adalah lonjakan terbesar dalam lima bulan.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron telah menjanjikan lebih banyak tempat tidur rumah sakit untuk pasien Covid.
Saat ini, jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di ICU mencapai 5.000 pasien.
Baca juga: Prancis Perpanjang Lockdown Nasional Selama 4 Pekan dan akan Menutup Sekolah Mulai 3 April
Baca juga: Prancis Buka Kembali Kedutaannya di Libya setelah Ditutup 7 Tahun
Perjalanan Radius Lebih dari 10 Kilometer Perlu Perizinan
Selain pembatasan yang mulai berlaku pada Sabtu, mulai Selasa, orang juga memerlukan alasan yang sah untuk melakukan perjalanan lebih dari 10 kilometer dari rumah mereka.
Presiden Macron berharap untuk mengendalikan kasus virus corona Prancis tanpa harus memberlakukan penguncian lagi.
Baca juga: Mengungkap Orang Jawa di Kaledonia Baru, 125 Tahun Masyarakat Jawa dalam Pemerintahan Prancis
Bagaimana dengan negara Eropa lainnya?
Di Jerman, Presiden Frank-Walter Steinmeier meminta orang-orang untuk memainkan peran mereka dan mendapatkan vaksinasi.
Berbicara dalam pidato televisi kepada negara pada Sabtu, dia mengatakan negara itu berada di tengah gelombang ketiga dan menghadapi lebih banyak pembatasan.
Baca juga: Aturan Baru Pencegahan Covid-19 di Prancis Timbulkan Pertanyaan dan Kritik
Dia juga mengakui, kesalahan telah dibuat khususnya dalam pengujian dan peluncuran vaksin.
Ia juga berbicara tentang adanya krisis kepercayaan di negara bagian tersebut.