Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pangeran Hamzah Akhirnya Tulis Surat Ikrar Setia Pada Raja Yordania Abdullah II

Pangeran Hamzah, mantan putra mahkota, menandatangani surat itu setelah dia bertemu Pangeran Hassan, paman raja, dan pangeran lainnya pada Senin itu.

Pangeran Hamzah Akhirnya Tulis Surat Ikrar Setia Pada Raja Yordania Abdullah II
JAMAL NASRALLAH / AFP
Ratu Noor dari Yordania, janda mendiang Raja Hussein, dan putranya Putra Mahkota Hamzah Bin Al Hussein menghadiri pertandingan bola basket antara Yordania dan Lebanon 14 Agustus 1999 di Amman. 

TRIBUNNEWS.COM, AMMAN - Pangeran Hamzah, adik Raja Abdullah II yang dituduh berusaha menggulingkan pemimpin Yordania, menulis surat pernyataan kesetiaan.

Hamzah berjanji mematuhi tradisi dan kekuasaan keluarga raja Hashemite. Kabar ini disampaikan pengadilan kerajaan menyusul penahanan rumah atas eks putra mahkota itu.

"Saya menempatkan diri saya di tangan Yang Mulia raja," demikian bunyi surat  menurut pengadilan kerajaan Yordania, Senin (5/4/2021) waktu Amman.

"Saya akan tetap berkomitmen pada konstitusi Kerajaan Yordania yang terhormat, dan saya akan selalu membantu dan mendukung Yang Mulia raja dan putra mahkotanya," imbuh Hamzah.

Baca juga: Yordania Resmi Tuduh Pangeran Hamzah Hendak Gulingkan Raja Abdullah II

Baca juga: Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud dari Arab Saudi Ungkap Dukungan untuk Raja Yordania

Baca juga: Eks Putra Mahkota Yordania Disebut akan Kacaukan Kerajaan, Dulu Posisinya Dicopot Raja Abdullah II

Pangeran Hamzah, mantan putra mahkota, menandatangani surat itu setelah dia bertemu Pangeran Hassan, paman raja, dan pangeran lainnya pada Senin itu.

“Kepentingan tanah air harus tetap di atas segala pertimbangan. Kita semua harus mendukung raja dalam upayanya melindungi Yordania dan kepentingan nasionalnya, ”kata surat itu.

Surat yang ditandatangani itu datang setelah Raja Abdullah II setuju untuk masuk mediasi untuk menyembuhkan keretakan dalam keluarga kerajaan.

Pemerintah menuduh Pangeran Hamzah terlibat dalam konspirasi yang menghasut untuk "mengacaukan keamanan kerajaan".

Ia dikenai tahanan rumah, bersama setidaknya 16 orang lainnya, termasuk Bassem Awadallah, mantan menteri kabinet dan pernah menjadi kepala istana kerajaan.

Istana mengatakan Abdullah meminta paman dari pihak ayah, Pangeran Hassan, untuk "menangani pertanyaan Pangeran Hamzah dalam kerangka keluarga (penguasa) Hashemite".

Halaman
123
Ikuti kami di
Editor: Setya Krisna Sumarga
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas