Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Virus Corona

Virus Corona Varian Lambda asal Peru Menyebar ke 28 Negara: Ini yang Perlu Diketahui

Virus Corona varian Lambda mempunyai daya tular tinggi di Peru dan telah menyebar ke 28 negara, mayoritas di Amerika Selatan

Virus Corona Varian Lambda asal Peru Menyebar ke 28 Negara: Ini yang Perlu Diketahui
hearingreview
Ilustrasi virus corona 

Penelitian terbaru tentang galur Lambda telah mencatat beberapa mutasi pada protein lonjakannya, bagian dari virus yang melakukan kontak dengan sel manusia, mengikatnya, dan kemudian menginfeksinya.

Sebuah penelitian tim dari Sekolah Kedokteran Grossman Univeristas New York, yang dirilis di situs web medis bioRxov Juli (sebelum ditinjau sejawat) Juli lalu menyebutkan, mutasi yang diamati pada protein lonjakan mungkin menjadi alasan bagi "peningkatan penularannya ... dan itu bisa mengurangi perlindungan oleh vaksin saat ini".

Menurut ahli virologi Ricardo Soto-Rifo dari Institut Ilmu Biomedis Universitas Chili, salah satu mutasi berlabel L452Q mirip dengan mutasi yang juga ditunjukkan pada varian Delta yang diyakini berkontribusi pada tingkat infeksi yang tinggi dari jenis itu.

Baca juga: Virus Covid-19 Baru Asal Indonesia, Namanya B.1466.2, Kini Dalam Pengawasan WHO

Namun Soto-Rifo mengingatkan bahwa efek mutasi yang sebenarnya masih belum jelas.

“Namun kami belum dapat mengatakan apa dampak sebenarnya dari mutasi ini, karena ini adalah jenis yang telah ditunjukkan terutama di Amerika Selatan, dan itu menempatkan kami pada posisi yang kurang menguntungkan, karena kami tidak memiliki semua sumber daya untuk melakukan penelitian yang diperlukan," katanya.

Apakah vaksin efektif melawan Lambda?

Dengan tim ilmuwan, Soto-Rifo melakukan studi pendahuluan (belum ditinjau sejawat) untuk  menilai efek vaksin CoronaVac yang dikembangkan China pada strain Lambda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lambda mampu menetralkan antibodi yang dihasilkan oleh vaksin.

Soto-Rifo mengatakan sebagian dari kemanjuran vaksin dapat diukur dengan respons imunisasi, tetapi juga oleh respons sel-T, yang merangsang produksi antibodi dan membantu memerangi sel yang terinfeksi virus.

Baca juga: Eks Direktur WHO: Virus Monkey B Sudah Ada Sejak 1930, Bukan Berarti Tidak Bisa Jadi Pandemi

“Hasil ini diharapkan,” kata Soto-Rifo. “Virusnya sudah berubah dan itu bisa membuat vaksin tidak seefisien virus aslinya, tapi bukan berarti vaksinnya tidak berfungsi lagi,” katanya.

Halaman
1234
Editor: hasanah samhudi
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas