Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version
Deutsche Welle

Kisah Kontras Warga Afganistan, Satu Dideportasi, Satu Dievakuasi

Seorang warga Afganistan bernama Farhad sangat ingin keluar dari negaranya dan mencari suaka ke Jerman. Sementara Abdul Ghafoor, warga…

 

Ketika suara tembakan terdengar di jalan-jalan Kabul, Farhad (bukan nama sebenarnya) menggendong putranya yang berusia 3 tahun dan berusaha menenangkan anaknya dengan mengatakan bahwa sebuah pernikahan sedang dirayakan di dekat sini. Tembakan ke udara adalah tradisi perkawinan di Afganistan untuk menghormati pengantin.

"Anak saya belum bisa memahami apa yang terjadi di negaranya sekarang. Dia sangat takut dengan ledakan keras," kata Farhad, menambahkan bahwa dia tidak bisa menjelaskan kepada anaknya apa yang sebenarnya terjadi.

Farhad adalah satu dari lebih dari 1.000 warga Afganistan yang dideportasi dari Jerman ke negara asal mereka sejak akhir 2016.

Dia masih di bawah umur ketika dia datang ke Jerman. Dia datang sendiri, kedua orang tuanya sudah meninggal. Dia tidak melakukan kejahatan apapun di Jerman. Namun, permohonan suakanya ditolak, meskipun ada dukungan besar dari teman-teman Jermannya agar permohonan suakanya diterima.

Praktik deportasi yang kontroversial

Sama seperti Farhad, setiap tahun ribuan orang Afganistan berusaha keras untuk mendapatkan izin tinggal di Jerman. Sekitar 60% permohonan suaka warga Afganistan ditolak. Baru pada 11 Agustus, yakni hanya empat hari sebelum Taliban menguasai Kabul, Kementerian Dalam Negeri Jerman menangguhkan deportasi kontroversial ke Afganistan.

Terlepas dari kritik yang disampaikan oleh organisasi hak asasi manusia (HAM), pemerintah Jerman telah lama mempertahankan posisinya bahwa Afganistan cukup aman untuk terus mendeportasi orang ke sana. Saat ini, masih ada sekitar 30.000 warga Afganistan di Jerman yang diwajibkan secara hukum untuk meninggalkan negara tersebut.

Mereka yang dideportasi ke Afganistan lebih tidak aman?

Seseorang seperti Farhad yang telah dideportasi sekali, tidak memiliki kesempatan realistis untuk diterbangkan sebagai bagian dari angkutan udara Jerman. Tapi dia putus asa. "Jika Taliban mengetahui saya telah tinggal di Jerman, mereka akan membunuh saya," katanya.

Abdul Ghafoor warga Afganistan yang telah membantu migran selama bertahun-tahun mengatakan bahwa orang-orang seperti Farhad yang kembali ke negaranya akibat dideportasi, berada dalam bahaya yang lebih besar daripada warga lainnya.

Ghafoor menjelaskan bahwa warga Afganistan yang pernah tinggal di negara Barat menimbulkan ancaman di mata Taliban, karena mereka yang tinggal di luar negeri mungkin memiliki gaya hidup yang berubah.

Halaman
12
Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas