Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Virus Corona

Infeksi Breakthrough Setelah Mendapat Vaksinasi, jadi Trendi di Jepang

Seorang   wanita berusia dua puluhan yang menulis tentang pengalamannya terinfeksi corona di SNS (media sosial) jadi trendi di Jepang saat ini.

Infeksi Breakthrough Setelah Mendapat Vaksinasi, jadi Trendi di Jepang
Richard Susilo
Profesor Hiroyuki Moriuchi, 60, (Penyakit Menular Anak) dari Universitas Nagasaki. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO -   Infeksi Breakthrough (terobosan) sedang banyak dibahas di Jepang.

Seorang  wanita berusia dua puluhan yang menulis tentang pengalamannya terinfeksi corona di SNS (media sosial) jadi trendi di Jepang saat ini.

Padahal dia tetap ikuti protokol kesehatan meskipun sudah di vaksinasi.

Infeksi terobosan terjadi di mana infeksi dikonfirmasi terjadi lebih dari dua minggu setelah vaksinasi dengan virus corona baru.

Wanita itu mengalami penurunan berat badan 4 kg hari ke-2 infeksi.

Dia tidak memiliki gejala demam, tetapi dia kehilangan indra perasa dan penciuman dan mulai mengalami batuk ringan dan diare.

“Dikatakan jumlah virus yang dikeluarkan oleh strain Delta sekitar 1000 kali lipat dari strain konvensional. Jika Anda langsung terkena berat, risiko infeksi dengan masker bedah saja tinggi, dan saya pikir itu tidak dapat dihindari. Kasus wanita tidak parah, tetapi corona baru mungkin menyebabkan serangan asma," ungkap Profesor Hiroyuki Moriuchi,  M. D., summa cum laude, Fakultas Kedokteran Universitas Nagasaki dan  mendapat Penghargaan Penyelidik Muda 1996 (Masyarakat Amerika untuk Mikrobiologi).

Mengapa infeksi terobosan terjadi meskipun telah dua kali di vaksinasi?

Baca juga: 30 September 2021 Jepang akan Cabut Pemberlakuan Status Darurat Covid-19

“Penyakit menular secara garis besar dapat dibagi menjadi dua jenis. Salah satunya adalah penyakit menular seperti campak atau cacar air yang tidak terjadi dua kali. Yang lain adalah jenis baru corona, influenza, rotavirus, dan lainnya. Campak dan cacar air memiliki laten yang relatif lama. Periode sampai onset. Setelah virus menyerang melalui selaput lendir hidung dan tenggorokan, itu meningkat di kelenjar getah bening di dekatnya dan kemudian naik ke aliran darah menjadi virus ke seluruh tubuh. Lalu menyebar dan berkembang," tambah Moriuchi (60).

Halaman
1234
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas