Tribun

Gagal Bayar Utang AS Berpotensi Memicu Krisis Keuangan Bersejarah, Utang Lebih Rp 400 Ribu Triliun

Default bisa datang sekitar Oktober, yakni ketika Departemen Keuangan kehabisan cadangan kas dan kapasitas pinjaman yang luar biasa

Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Gagal Bayar Utang AS Berpotensi Memicu Krisis Keuangan Bersejarah, Utang Lebih Rp 400 Ribu Triliun
Tribunnews/JEPRIMA
Petugas saat memperlihatkan sejumlah uang dollar 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen terus mendorong Kongres AS untuk menaikkan batas utang plafon.

Hal tersebut ditekankan Janet Yellen mengingat gagal bayar atau default pada utang AS akan memicu krisis keuangan bersejarah.

Menurut Yellen, bahwa krisis yang dipicu oleh default akan menambah kesulitan di tengah pandemi virus Covid-19 yang berkelanjutan.

Yakni mengguncang pasar dan menjerumuskan ekonomi AS ke dalam resesi dan kenaikan suku bunga yang berkelanjutan.

“Kami akan keluar dari krisis ini sebagai negara yang lebih lemah secara permanen,” ucap Yellen seperti dikutip Tribunnews dari Reuters.

Baca juga: Masuk Masa Tenggang, Raksasa Properti China Evergrande Terancam Default Jika Tak Bayar Utang

Yellen tidak memberikan pilihan batas waktu baru untuk kemungkinan default.

Namun dirinya memberikan gambaran bahwa kerusakan ekonomi yang akan menimpa konsumen melalui biaya pinjaman yang lebih tinggi dan harga aset yang lebih rendah akibat default.

Dia telah mengatakan sebelumnya bahwa default bisa datang sekitar Oktober, yakni ketika Departemen Keuangan kehabisan cadangan kas dan kapasitas pinjaman yang luar biasa di bawah batas utang 28,4 triliun dolar AS.

Bila dikonversi menjadi Rupiah, nilai tersebut setara dengan Rp405 ribu triliun (asumsi kurs dolar AS: Rp14.276).

Baca juga: Menkeu AS Kumpulkan CEO Perusahaan Finansial, Bahas Risiko Gagal Bayar Utang Pemerintah

"Kita dapat meminjam lebih murah daripada hampir semua negara lain, dan gagal bayar akan membahayakan posisi fiskal yang patut ditiru ini. Itu juga akan membuat Amerika menjadi tempat tinggal yang lebih mahal, karena biaya pinjaman yang lebih tinggi akan membebani konsumen," jelas Yellen.

"Pembayaran Mortgage, pinjaman mobil, tagihan kartu kredit, serta semua yang dibeli dengan kredit akan lebih mahal setelah gagal bayar,” sambungnya.

Sebagai informasi, Partai Republik di Dewan Perwakilan Rakyat AS telah menolak untuk mendukung menaikkan atau menangguhkan utang AS.

Senator AS, Bill Cassidy dari Louisiana mengatakan bahwa Demokrat ingin meningkatkan batas pinjaman untuk mendanai triliunan dolar dalam pengeluaran "Daftar keinginan Demokrat".

Baca juga: Dideklarasikan di Bandung, Serikat Rakyat Gotong Royong Libatkan Berbagai Elemen

Merespon hal tersebut, Yellen berpendapat, pagu utang adalah berkaitan tentang membayar kewajiban pengeluaran masa lalu. Sehingga, menunggu terlalu lama untuk menaikkan pagu utang dapat menyebabkan kerusakan.

Hal tersebut dapat dicontohkan seperti krisis pagu utang 2011 yang mendorong pemerintah federal ke ambang default yang merubah peringkat kredit.

"Hal ini menyebabkan gangguan pasar keuangan yang berlangsung selama berbulan-bulan. Waktu adalah uang di sini, berpotensi miliaran dolar. Baik penundaan maupun default tidak dapat ditoleransi," ujarnya.
 

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas