Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Konflik di Afghanistan

Waspadai Ancaman Bom, AS dan Inggris Peringatkan Warganya untuk Menjauhi Hotel di Kabul

Amerika Serikat (AS) dan Inggris memperingatkan warganya untuk menghindari hotel Afghanistan, Senin (11/10/2021).

Waspadai Ancaman Bom, AS dan Inggris Peringatkan Warganya untuk Menjauhi Hotel di Kabul
AFP/WAKIL KOHSAR
Dalam gambar yang diambil pada 3 Oktober 2021, para pejuang Taliban yang bekerja sebagai polisi berjaga di gerbang masuk sebuah distrik polisi di Kabul - Amerika Serikat (AS) dan Inggris peringatkan warganya untuk tidak berada di hotel Afghanistan, buntut ledakan bom di masjid. 

TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) dan Inggris memperingatkan warganya untuk tidak berada di hotel Kabul, Afghanistan, Senin (11/10/2021).

Peringatan tersebut buntut dari insiden ledakan bom yang menewaskan puluhan orang di sebuah masjid dalam serangan yang diklaim oleh kelompok Negara Islam.

"Warga AS yang berada di atau dekat Hotel Serena harus segera pergi," kata Departemen Luar Negeri AS, seperti dikutip dari CNA.

Hal itu untuk mewaspadai adanya "ancaman keamanan" di daerah tersebut.

"Mengingat meningkatnya risiko, Anda disarankan untuk tidak menginap di hotel, khususnya di Kabul (seperti Hotel Serena)," tambah Kantor Luar Negeri, Persemakmuran dan Pembangunan Inggris.

Baca juga: AS dan Taliban Lakukan Pertemuan, Bahas Bantuan Kemanusiaan hingga Vaksinasi Covid-19 di Afghanistan

Baca juga: ISIS-K Akui Dalangi Teror di Masjid Syiah di Afghanistan, Bomber Ledakkan Diri di Tengah Jemaah

Sejak pengambilalihan Taliban, banyak orang asing telah meninggalkan Afghanistan, tetapi beberapa jurnalis dan pekerja bantuan tetap berada di ibu kota.

Serena yang terkenal, sebuah hotel mewah yang populer di kalangan pelancong bisnis dan tamu asing, telah dua kali menjadi sasaran serangan Taliban.

Pada tahun 2014, hanya beberapa minggu sebelum pemilihan presiden, empat remaja pria bersenjata dengan pistol yang disembunyikan di kaus kaki mereka berhasil menembus beberapa lapisan keamanan.

Akibat insiden tersebut, sembilan orang tewas, termasuk seorang jurnalis AFP dan anggota keluarganya.

Selain itu, pada tahun 2008, sebuah bom bunuh diri menewaskan enam orang.

Halaman
12
Ikuti kami di
Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas