Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version
Deutsche Welle

Angka Kelaparan Dunia Meningkat Tajam, Pandemi-Perubahan Iklim Jadi Pemicunya

Laporan Indeks Kelaparan Global terbaru mengungkap sekitar 50 negara di dunia menghadapi tingkat kelaparan serius. Tahun lalu, 2,4…

PBB pada tahun 2015 menargetkan, kelaparan dunia berakhir di tahun 2030. Awalnya target tersebut tampak sangat mungkin untuk dicapai. Tapi sekarang, laporan terbaru terkait Indeks Kelaparan Global (GHI) yang dikeluarkan oleh Welthungerlife and Concern Worldwide mengindikasikan, "perang melawan kelaparan sudah sangat jauh keluar jalur.”

Laporan yang dirilis pada Kamis (14/10) itu muncul tidak lama setelah PBB juga menerbitkan data terbaru terkait jumlah orang yang tidak mendapatkan nutrisi yang layak di dunia. Di tahun 2020, jumlahnya meningkat 320 juta menjadi 2,4 miliar orang – hampir sepertiga populasi dunia.

"Kami dapat melihat dengan jelas bahwa progresnya melambat atau bahkan berbalik arah,” kata Miriam Wiemers, salah satu penulis laporan.

Selain memantau data kekurangan gizi dan ketersediaan kalori, laporan indeks tersebut juga memantau beberapa faktor lain seperti kualitas makanan, stunting, dan kematian di antara anak-anak.

"Faktor-faktor ini mencerminkan efek jangka panjang dari kelaparan terhadap kesehatan penduduk, juga terhadap perkembangan fisik, mental dan kognitif anak-anak,” jelas Wiemers.

Selain itu, laporan indeks juga mengungkap ada sekitar 50 negara di seluruh dunia yang situasinya mengkhawatirkan. Artinya, sebagian besar populasi mereka mengalami kelaparan.

Perubahan iklim memperburuk kelaparan

Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) tahun 2021 telah mengkorelasikan pemanasan global - khususnya peristiwa cuaca yang lebih sering dan intens seperti badai, banjir, dan kekeringan - dengan meningkatnya kerawanan pangan.

Salah satu contohnya adalah Afrika. "Salah satu alasan mengapa Afrika [sub-Sahara] memiliki tingkat kelaparan yang lebih tinggi adalah karena kurangnya kesiapan menghadapi tantangan perubahan iklim,” kata Joe Mzinga, juru bicara ESAFF, sebuah jaringan petani skala kecil di Afrika timur dan selatan.

Menurutnya, ketergantungan pada satu jenis tanaman membuat populasi sangat rentan terhadap perubahan iklim. "Jagung membutuhkan banyak air [untuk tumbuh], sehingga berkurangnya curah hujan akan dengan cepat berujung pada krisis pangan,” kata Mzinga mencontohkan.

Halaman
12
Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas