Tribun
Deutsche Welle

Waspada Osteoporosis: Penyakit Senyap yang Gerogoti Massa Tulang

Osteoporosis perlu diwaspadai karena menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), 50 persen kejadian patah tulang panggul bisa menyebabkan…

Memperingati Hari Osteoporosis Sedunia pada 20 Oktober, sejumlah dokter dan ahli gizi di Indonesia mengingatkan pentingnya olahraga rutin untuk menjaga kepadatan tulang dan pentingnya asupan seimbang untuk mencukupi nutrisi yang dibutuhkan oleh tulang, seperti kalsium dan vitamin D.

Di Indonesia, kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya aktivitas fisik dan pola makan dengan gizi seimbang diyakini sebagai penyebab peningkatan jumlah pasien osteoporosis. Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan, 2 dari 5 penduduk Indonesia diperkirakan berisiko terkena osteoporosis.

Masih menurut Kementerian Kesehatan, pada tahun 2050, penduduk Indonesia yang berusia 50-70 tahun diperkirakan akan tumbuh sebesar 135 persen menjadi 113 juta. Laki-laki dan perempuan pada usia ini berada pada posisi paling berisiko terkena osteoporosis, dan jumlah mereka mencapai 1/3 dari total penduduk Indonesia.

Osteoporosis perlu diwaspadai karena menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), 50% kejadian patah tulang panggul bisa menyebabkan kecacatan seumur hidup dan meningkatkan angka kematian.

Banyak pengidap tidak menyadari tulangnya kian menipis

Dokter Eka Mulyana, dokter spesialis ortopedi dan traumatologi di Rumah Sakit Umum Daerah Subang, mengatakan osteoporosis perlu diwaspadai karena penyakit penurunan kepadatan massa tulang ini dikenal sebagai silent disease atau penyakit senyap.

Osteoporosis disebut penyakit senyap karena proses pengeroposan tulang tidak disertai dengan gejala, dan oleh karena itu, penyakit ini biasanya tidak disadari oleh pengidapnya. Mereka baru akan sadar ketika merasa nyeri setelah terjadi suatu hal, seperti terpeleset, yang bisa menyebabkan tulangnya terbentur dan kemudian patah. Jika massa tulang semakin tipis, tulang akan semakin mudah patah.

"Sebelum patah, tidak terasa nyeri," kata dr. Eka kepada DW Indonesia. "Jadi, kelainan yang terjadi bukan pada bentuk dari tulangnya, namun terjadi pada arsitektur jaringan di dalam tulangnya."

Sementara dokter Michael Triangto, dokter spesialis kedokteran olahraga di Rumah Sakit Mitra Kemayoran dan Direktur Slim & Health Center Jakarta, menjelaskan bahwa pengeroposan tulang terjadi pelan sekali selama bertahun-tahun. Selama proses itu, tidak timbul keluhan dan kelainan bentuk. Akan tetapi, tulang itu tiba-tiba saja retak atau patah.

"Atau kalau dia selamat dari patah selama hidupnya, pada saat usia lanjut, ia akan merasa ngilu di seluruh tulang-tulangnya. Begitu diperiksa, baru diketahui bahwa tulangnya keropos," kata dr. Michael kepada DW Indonesia.

Tidak bisa dicegah, bisa diperlambat

Halaman
123
Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas