Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Eksekusi Mati Digelar Dadakan, Terpidana Mati di Jepang Gugat Pemerintah: Tidak Manusiawi

Dua terpidana mati di Jepang menggugat pemerintah lantaran waktu eksekusi diinformasikan hanya beberapa jam sebelum pelaksanaan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Ika Nur Cahyani
Editor: Miftah
zoom-in Eksekusi Mati Digelar Dadakan, Terpidana Mati di Jepang Gugat Pemerintah: Tidak Manusiawi
Pexels.com
Ilustrasi. Dua terpidana mati di Jepang menggugat pemerintah lantaran waktu eksekusi diinformasikan hanya beberapa jam sebelum pelaksanaan. 

TRIBUNNEWS.COM - Dua terpidana mati di Jepang menggugat pemerintah lantaran waktu eksekusi diinformasikan hanya beberapa jam sebelum pelaksanaan.

Dilansir Reuters, dua orang ini menuntut adanya perubahan sekaligus meminta kompensasi atas tindakan "tidak manusiawi" itu. 

Hal ini dijelaskan kuasa hukum terpidana mati tersebut, pada Jumat (5/11/2021).

Diketahui, Jepang mengeksekusi mati tahanan dengan cara digantung.

Namun pihak penjara atau yang terkait tidak memberi tahu terpidana mati terkait waktu eksekusi mereka.

Biasanya napi akan diberi informasi hanya beberapa saat sebelum mereka dihukum mati.

Baca juga: Komnas HAM Harap Jokowi Kabulkan Grasi Untuk Terpidana Mati Merry Utami

Baca juga: Apa Ancaman Hukuman bagi Pelaku Penganiaya Hewan? Ini Penjelasan Ahli Hukum

Penjara Kumamoto
Penjara Kumamoto (Foto Fuji TV)

Praktik semacam ini sebenarnya telah lama menuai kecaman organisasi hak asasi manusia internasional.

Rekomendasi Untuk Anda

Hal ini dinilai tidak manusiawi karena tekanan yang diberikan kepada tahanan, yang setiap hari menunggu hari terakhir mereka.

Pada Kamis (4/11/2021), dua terpidana mati mengajukan gugatan terkait hal ini di pengadilan distrik di Osaka.

Mereka menilai praktik ini ilegal karena tidak memberikan waktu kepada para tahanan untuk mengajukan keberatan.

Mereka juga meminta perubahan terkait hal itu dan menuntut kompensasi sebesar 22 juta yen, jelas pengacara Yutaka Ueda.

"Terpidana mati hidup dalam ketakutan setiap pagi bahwa hari itu akan menjadi hari terakhir mereka."

"Ini sangat tidak manusiawi," kata Ueda.

"Jepang benar-benar berada di belakang komunitas internasional dalam hal ini," tambahnya.

Amerika Serikat dan Jepang adalah satu-satunya negara demokrasi industri yang masih menerapkan hukuman mati, dan kelompok hak asasi manusia seperti Amnesty International telah menuntut perubahan selama beberapa dekade.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas